napak tilas

Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Saya tertinggal rombongan!

Karena suatu keperluan, saya harus mampir ke anjungan tunai mandiri (ATM). Saya memisahkan diri dari rombongan teman-teman NgopiJakarta atau Ngojak yang masih berjalan sekitar 50 meter dibelakang saya. Saat selesai, saya tidak menemukan satu pun dari mereka. Gawat! saya tertinggal rombongan.

Saya pun mencoba mencari keberadaan rombongan Ngojak, saya susuri sisi Jalan Pangeran Jayakarta yang mengarah ke Kota dengan berbekal nama tujuan kami saat itu, makam Souw Beng Kong.

Sabtu, 23 Februari 2019. Saya mengikuti kegiatan Ngojak offline yang bertajuk ”#Ngojak19 Kampung Toapekong dan Jayakarta; Selusur Cerita Tua di Tepian Ciliwung Lama”. Sebuah kegiatan penambah pengetahuan, terutama terkait sejarah yang terjadi di Kota Jakarta, yang kali ini memulai perjalanannya dari Stasiun Sawah Besar dan berakhir di Gereja Sion, Pinangsia, Jakarta Barat.Selengkapnya »Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Buka Puasa Bersama Jawa, Bali, Tionghoa dan Belanda di Masjid Angke

Di awal penguasaan VOC di Batavia, orang-orang Bali didatangkan sebagai budak yang dijual oleh raja-raja mereka. Selain sebagai budak bagi para orang Belanda pada zaman itu, di mana jumlah budak yang dimiliki menunjukkan prestise dan menaikkan derajat pemilik budak. Ada juga yang dipekerjakan di kebun atau sawah yang dimiliki oleh tuan tanah kaya. Wanita Bali pun terkenal pandai mengurus rumah tangga dan cantik, sehingga disukai oleh orang Belanda dan Tionghoa yang menjadikan mereka sebagai gundik. Ada pula orang Bali yang berstatus bebas dan menjadi tentara VOC.1

Saking banyak orang Bali di Batavia, tercatat dari tahun 1687 sudah 4 kampung etnis Bali; di Jakarta Pusat, Jakarta Timur (Bali Mester, Jatinegara), Jakarta Barat (Bali Krukut dan Bali Angke). Kampung etnis Bali pun semakin bertambah ke daerah lain, diantaranya Kampung Gusti (1709) di Kampung Angke sampai Kampung Bali di Tanah Abang (1874).Selengkapnya »Buka Puasa Bersama Jawa, Bali, Tionghoa dan Belanda di Masjid Angke

Penghangat Makanan

 “Ini adalah penghangat makanan yang sering digunakan pelajar muslim untuk menyimpan makanan sahur,” ujar Suster Museum Biara Ursulin Santa Maria saat sedang memandu kami, rombongan pengunjung dari Ngopi Jakarta, berkeliling bulan lalu di Jakarta.

Saya terdiam, lalu menatap lekat kotak seukuran satu kali satu meter itu. Kotaknya berbahan kayu dengan cantelan gembok. Masih terlihat kokoh walaupun usianya sudah lebih dari seratus tahun. Suster membuka bagian atap kotak dan menunjukkan kepada kami kain serupa karung goni. Kasar, tebal, dan luas.

Pada masa itu belum ada alat-alat dapur berteknologi tinggi semacam kulkas, magic com, apalagi microwave. Biasanya, Suster yang bertugas di area dapur akan masak sehari tiga kali untuk seluruh penghuni biara. Lalu, makanan yang dimasak akan habis dalam satu kali hidang.Selengkapnya »Penghangat Makanan

MH Thamrin dan Jejak Awal Persija di Petojo

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar nama Petojo? Buat Anda yang tinggal di Jakarta, tentunya akan langsung teringat dengan kawasan padat ruko di Jakarta Barat yang dekat dengan salah satu pusat ritel elektronik terbesar di ibu kota Jakarta. Ya, apalagi kalau bukan Roxy. Tak sedikit juga sejumlah produsen ponsel yang membuka kios servisnya di kawasan itu. Sedikit intermezzo, karena saya juga tak mau bicara tentang ponsel atau lokasi servisnya di sana melainkan stadion bola yang ada di dekat Petojo atau tepatnya di Jalan Biak. Saya tidak bohong, stadion bola memang sungguh ada di sana.

Mundur sedikit ke beberapa hari setelah Hari Sumpah Pemuda, hari di mana saya pertama kali mengenal secara langsung sosok MH THamrin di museumnya. Lahir dan besar di Jakarta, saya mengenal sosok MH Thamrin hanya sebatas sebagai pahlawan nasional yang namanya di abadikan di salah satu sudut jalan mentereng ibu kota. Kenapa saya membahas sosok MH Thamrin? Karena masih ada hubungannya dengan stadion bola di Petojo yang akan saya bahas nanti.Selengkapnya »MH Thamrin dan Jejak Awal Persija di Petojo

Santri di Gelanggang Zaman

Dalam sudut politik, anotomi sejarah santri selalu terlibat dalam gegap gempita distribusi kekuasaan. Distribusi kekuasaan selalu terlihat tidak adil bagi yang merasa tak mendapatkan. Anehnya, kabar-kabar kekuasaan dilaksanakan oleh mereka-mereka yang tak ahli. Sehingga tafsir soal anotomi para pembagi mendapatkan dua tantangan besar, pertama, “kasihan” kedua, “yang bekerja”.

Zaman ini adalah masa di mana kekacauan dalam euforia yang dalam ungkapan tukang ojek “moto peteng”. Yang tak ahli seolah mendapat jatah, yang ahli mendapatkan jatah sebagai penonton kelas barak pengungsian. Santri selalu punya wajah ini.Selengkapnya »Santri di Gelanggang Zaman

Yang Lamat-lamat Menghilang

Kramat dan Kwitang, 2 nama kampung tua di Jakarta ini terus bertahan dari deru geliat zaman.

Kampung Kramat yang merupakan pengembangan dari kampung tua Senen yang awalnya hanya sebidang pasar yang dibangun Justinus Vinck di tahun 1735 untuk memenuhi kebutuhan kota baru Weltervreeden di daerah Gambir dan sekitarnya sekarang.

Kampung Kwitang, kampung ini diperkirakan sudah ada dari abad 17. Toponim Kwitang dikatakan berasal dari nama seorang pendekar Tiongkok, Kwee Tiang Kiam, yang berkelana dan akhirnya menetap di daerah Kwitang sekarang ini. Ada cerita lain yang mengatakan Kwee Tang Kiam adalah seorang tuan tanah yang kaya raya. Saking luas tanahnya, orang orang menyebutnya kampung si Kwee Tang.Selengkapnya »Yang Lamat-lamat Menghilang