menulis

Lulus

Jumat, 29 April 2016[1]

Catatan harian ~ Jam menunujukkan pukul 05:35 wib. Saya yang nampak terburu-buru dengan dibonceng oleh abang saya menggunakan sepada motor. Hari itu pada tanggal 28 April 2016, hari paripurna bagi saya untuk mencoba melihat kembali perjalanan hampir empat tahun semasa kuliah, dihiasi dengan buku, politik dan cinta. Hari dimana dunia menerjemahkan kesuksesan seseorang dalam pergumulan intelektual, skripsi dan prestise, yakni wisuda. Benarkah demikian?

Dimulai ketika lulus dari sekolah negeri kejuruan di daerah Tangerang Selatan, mengambil jurusan pemanfaatan tenaga listrik. Tehnik, tiga tahun menimba ilmu yang didominasi oleh Id[2]. Sangat asing istilah penyadaran kala itu, rezim sekolah yang mengobral janji soal keberadaan ruang praktek di awal masuk dan brosur sekolah yang sungguh menarik perhatian orang tua, suungguh kita menikmati fasilitas tadi, tapi setelah berada di kelas tiga, banalitas yang mengasyikan.

Lulus dengan angka cukup, sehingga berpikir kemana setelah ini. Saya memikirkan tentang perihal tiga poin: pertama, lanjut kuliah dengan mengambil jurusan yang menjanjikan, kedua, kerja dengan keahlian yang dimiliki saat sekolah (kerja secara linear), dan terakhir menjadi manusia yang memberikan pekerjaan untuk BPS (Badan Pusat Statistik) yang dalam hal ini masuk kategori menambah angka usia produktif atau menambah jumlah pengangguran.

Akhirnya saya memilih di yang pertama, kuliah.Selengkapnya »Lulus

Suasana yang Begitu Jauh

Ini adalah Idul Fitri pertama saya di Indonesia sejak empat tahun terakhir. Saya sudah lupa seperti apa yang namanya takbiran. Beberapa hari sebelum lebaran, pasti saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta dengan tiket di tangan. Saya lupa seperti apa harumnya opor ayam buatan tetangga dan gema dari Masjid untuk Salat Ied. Entah, tahun ini memang saya sudah tidak lagi menginginkan meninggalkan Indonesia. Di negeri yang jauh, saya tak bisa lagi merasakan suasana lebaran yang semestinya.

Saya memang tidak pernah ikut berlebaran. Namun, saya selalu suka dengan suasana lebaran. Apalagi ketika saya tidak berada di Indonesia, suasana itu terasa begitu jauh. Saya suka berputar ke pasar tradisional dan membeli bungkus ketupat yang kosong. Tak saya isi, hanya saya mainkan saja. Saya juga sering menyaksikan orang yang melintas di depan rumah saya hanya untuk bertakbiran.Selengkapnya »Suasana yang Begitu Jauh

Pembuktian Andrea Hirata

Andrea Hirata- [Ayah]

Setelah menyelesaikan International Writing Program 2010 di IOWA University, Andrea Hirata datang lagi ke gelanggang sastra Indonesia dengan novel terbarunya yang berkisah tentang hubungan ayah dan anak, namun sekaligus dibalut dengan cerita perkawanan dan cinta yang getir.

Kali ini dari segi bangunan cerita lebih bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang melambungkan namanya namun penulisannya tidak fokus, atau bahkan dengan novel-novel dia yang lainnya, Ayah menampilan ramuan kisah, plot, dan twist yang cukup kokoh.

Namun meskipun demikian, tokoh-tokoh yang didadarkan di dalamnya masih kental dengan karakter-karakter komikal yang sangat mudah untuk die hard.Selengkapnya »Pembuktian Andrea Hirata

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik Opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang mudah, saingannya beratus Profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.Selengkapnya »Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Jakarta-Bandung Hanyalah Perkara Jarak

Ingin mengabadikan hal ihwal dan tetek bengek sebuah kota. Menyelami dan membaca ulang ke dalam jaringan hubungan tekstual. Untuk menafsirkan teks, untuk menemukan maknanya adalah dengan menganalogikan satu kejadian dengan kejadian lain.  Begitulah ketika memilih Jakarta sebagai objek menulis yang tentunya bukan hal mudah karena hegemoni yang melekat di dalamnya sebagai kota plural, penuh kesinisan, dan terkadang pongah bagi penghuninya. Namun ini menjadi tantangan tersendiri.

Selengkapnya »Jakarta-Bandung Hanyalah Perkara Jarak

Dilarang Berkerut

Rekan saya sedang mengeluh betapa susahnya menyusun kalimat pada paragraf pertama sebuah tulisan. Sebagai pekerja paruh waktu, ia kerap ditagih setoran artikel oleh atasannya yang bawelnya minta ampun. Padahal bukan kali ini saja ia mengalami hal serupa. Sejak surat kabar tempatnya bekerja beralih fungsi menjadi media daring pada awal November tahun lalu, ia menjadi kutu loncat sebagai kuli tinta di berbagai ranah. “Sekalian fokus nyelesein buku nih, bro,” ujarnya. Anehnya, keluhan soal paragraf pertama tersebut cukup lancar ia sampaikan lewat tombol-tombol papan ketik dari gawainya yang keren itu.

“Gila. Lu ngeluh sulit nulis di paragraf awal, sementara bilangnya aja lebih satu paragraf lewat WhatsApp,” hardik saya geram.Selengkapnya »Dilarang Berkerut