media

Menuli(s)

“Lama gak nulis, otak gue bego,” seloroh seorang kawan lewat obrolan daring. Betul ternyata, dua bulan terakhir otak saya nyaris tumpul merangkai kalimat. Alasan klasik tentunya kesibukan pekerjaan yang bertubi-tubi. Tapi nampaknya saya naif ketika menjadi malas menulis di blog ini. Padahal banyak sekali momen yang sebetulnya sayang jika tidak ditorehkan menjadi sebuah catatan, minimal tentu saja untuk dikonsumsi sendiri sebagaimana tujuan blog keroyokan ini; jadi cendramata yang asik bagi penulisnya mengenang kota Jakarta. Ujar Abah Amin, mana tahu, tahun depan sudah berlabuh di kota atau negara lain. Amin, Abah.

Banyak hal yang ingin ditulis, mulai dari hal-hal serius di kegiatan komunitas, rencana melamar Isyana Sarasvvati, isu-isu sosial politik sepanjang tahun 2015, orang-orang yang asal tekan tombol share di media sosial,- istilahnya ‘sarsersor muncrat-muncrat’- atau hal-hal remeh soal dunia sepak bola atau fotografi. Ide-ide yang hanya membuncah di kepala, minta diledakkan. Selengkapnya »Menuli(s)

Tak Mau Tahu, Pokoknya Beda

Dulu seorang teman pernah bercerita…

“Saya lagi deket sama cewe nih, Wit. Tapi saya belum pernah ketemu.”

“Loh, kok bisa deket?”

“Yaa, biasaa.. sms-an, teleponan, ym-an…”

“Kenal darimana emang?”

“Dia itu adek kelasnya temen saya.”

“Terus?”

“Ya, saya bingung aja. Aneh rasanya.” Selengkapnya »Tak Mau Tahu, Pokoknya Beda

Satrio Piningit dan Kaum Oposan

Semar. Sebuah lukisan karya V.A Sudiro yang dipamerkan di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta

Semar. Sebuah lukisan karya V.A Sudiro yang dipamerkan di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta

Sejak era reformasi bergulir yang ditandai dengan lengsernya pucuk pimpinan Orde Baru, media tiba-tiba rajin menulis ihwal Satrio Piningit. Tokoh ini tentu saja lahir dari literatur Jawa namun mampu mengusai isu nasional. Tersebutlah seorang sakti mandraguna yang saking saktinya sampai bisa memprediksi tentang akan datangnya seorang pemimpin yang cerdas, jujur, dan tingkah lakunya lurus dan benar.

Pasca amuk massa 1998, masyarakat rindu dengan pemimpin yang digadang-gadang hendak datang sebagai penyelamat kehidupan yang terlanjur sudah remuk. Ekonomi hancur, hukum doyong berderak-derak, pergaulan sosial memanas dengan konflik, dan lain-lain. Maka isu Satrio Piningit menemui titik didihnya yang paling massif.

Isu yang sangat empuk ini kemudian digoreng oleh media dengan cukup brutal. Dengan kalkulasi keuntungan yang menggoda dan tenaga pemberitaan yang bergenit-genit dengan tema dan materi, maka banjir deraslah kabar tentang pemimpin keren ini. Bagaimana tidak, Orde Baru yang waktu kerusuhan itu sah untuk dilekatkan kepadanya nama-nama busuk, bajingan, dan bangsat, adalah pembanding yang sempurna untuk melahirkan siapa saja yang dianggap lebih mulia untuk diangkat menjadi Satrio Piningit.Selengkapnya »Satrio Piningit dan Kaum Oposan

Anak Muda dan Media Sunda

Anak Muda dan Media Sunda

Di tengah gairah kampanye Kesundaan yang divisualkan dengan baju pangsi, iket, kebaya, dan hal-hal yang tak esensial lainnya, media Sunda yang berusaha menjaga budaya literasi justru hampir sekarat tanpa perhatian yang signifikan. Sebagai contoh, Majalah Mangle yang kini berusia 58 tahun berjalan terseok dengan tren jumlah pembaca yang kian turun. Juga mingguan Galura yang jika dilihat dari sisi bisnis hampir pasti tidak menggembirakan. Dengan jumlah penutur kedua terbesar di Nusantara, Bahasa Sunda mestinya adalah pasar yang jelas bagi media Sunda itu sendiri, namun kenyataannya adalah paradok yang semakin buruk.

Kondisi ini tentu menjadi tanggungjawab Ki Sunda yang peduli dengan perkembangan medianya. Jika dipetakan secara sederhana berdasarkan usia, demografi pengembannya mencuatkan satu identitas yang khas, yaitu anak muda. Di luar kata dan kalimat yang kerap dilekatkan kepada anak muda seperti “pembaharu”, “pelopor”, “agent of change” dan lain sebagainya, dalam kontek Bahasa Sunda, anak muda ini adalah generasi pertengahan yang diapit oleh dua tubir jurang.Selengkapnya »Anak Muda dan Media Sunda