lebaran

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali. Di anak tangga pertama, beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.”

Lepas khutbah, sahabat di barisan depan itu bertanya, “Engkau mengucapkan ‘Amin’ tiga kali. Ada apa gerangan?” Rasulullah bercerita tentang Jibril yang datang kala itu. “Jibril berdoa,” katanya, “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu dosa-dosanya tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.Selengkapnya »Tak Ada Lebaran

Mudik dan Mereka yang Tertinggal

Hujan yang mengguyur Kota Jakarta subuh tadi masih menyisakan jejak, hawa dingin yang membuat nyaman dan mengantuk tak memupus semangat sebagian orang untuk bergegas. Jumat, hari pertama di bulan Juli jatuh pada 26 Ramadan 1437 H.

“Teh, mudik gak?”

Tiba-tiba pertanyaan Pak Amin melintas di kepala, saat saya melihat seorang ayah tertawa sambil menggendong anaknya di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta. Selengkapnya »Mudik dan Mereka yang Tertinggal

Lebaran dan Pulang

Satu sore di tahun 1954, Sitor Situmorang mendapati sebuah pemandangan yang menakjubkan. Usai pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer, ia melewati sebuah pekuburan Eropa. Dilihatnya rembulan yang memantul melalui sela pepohonan tua nan rimbun. Pemandangan itu kemudian melahirkan sebuah karya yang fenomenal lewat sebuah sajak berjudul Malam Lebaran. Isi sajak ini sangat pendek, hanya beberapa kata saja:

bulan di atas kuburan

Dalam pengakuannya, saat itu Sitor ingin bersilaturahmi karena masih suasana Lebaran. Pulangnya, ia kehilangan arah sembari dihinggapi rasa kecewa karena Pram tidak ada di rumah. Melewati jalan berkelok dan licin, tibalah di sebuah pekuburan tersebut. Maka saat ia melihat cahaya bulan itu, seakan menemukan jalan pulang yang sesungguhnya.Selengkapnya »Lebaran dan Pulang