jalanan

Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Jakarta adalah pusat geliat ekonomi Indonesia. Daerah bisa saja memiliki komoditas, tenaga kerja, bahkan pabrik dan lahan usaha, namun jika bicara perputaran modal, manajemen, dan hulu bisnis, maka pusatnya adalah Jakarta. Persentase GDP Jakarta dari GDP Indonesia mencerminkan bagaimana hebatnya geliat ekonomi di ibukota.

Siapa sangka, sejarah panjang ekonomi Jakarta (dulu Batavia), dulu sempat ditopang hanya dengan satu ruas jalan sebagai infrastruktur. Jalan yang menghubungkan dua pasar tertua di “Batavia baru”, sejak pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Tua ke Weltevreden.

Adalah seorang Justinus Vinck, pengusaha kaya asal Belanda, yang berperan penting menggerakkan ekonomi Weltevreden. Pada 1735 dia membeli dua lahan besar untuk dijadikan pasar, satu di Tanah Abang dan satu di daerah timur Weltevreden.

Lahan di Tanah Abang ia beli dari keluarga pengusaha dan Kapten Cina Phoa Bingham. Bingham sendiri terkenal karena inisiasinya membuat kanal di Tanah Abang untuk sarana transportasi komoditas dari selatan ke Kota Tua pada 1648. Saat dibeli Vinck, lahan Tanah Abang dipergunakan keluarga Bingham sebagai perkebunan tebu, pertanian, dan peternakan. Lahan ini kemudian sejak 1735 disulap Vinck menjadi Pasar Saptu. Sesuai namanya, pasar hanya buka setiap hari Sabtu, dan jualan utamanya adalah tekstil serta barang kelontong.Selengkapnya »Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?

Segerombol anak kecil berusia sekolah berlarian menyeberangi jembatan, yang memisahkan dua kampung berisikan rumah-rumah berdinding tepas yang tampak berderet di kedua sisinya. Begitu melintasi gapura berwarna merah pada jalan masuk kampung, yaitu hasil dari sponsor perusahaan kopi lokal, terlihat berbagai macam aktivitas sederhana yang dilakukan warga. Mulai dari mencuci baju, memberi makan ayam atau bebek peliharaan berjumlah ala kadarnya, dan sebagian lainnya memilih sibuk memasak untuk dikonsumsi oleh keluarga atau dijual kembali pada usaha warung makan yang dimiliki.

Sebelum sebuah hotel berbintang lima yang berada tepat di sekitaran Tugu Tani dibangun, diperkirakan pada akhir tahun 1970an, pinggiran Ciliwung daerah Kwitang telah mulai dipadati pendatang dari Madura. Para perantau menetap bersisian dengan aliran Kali Ciliwung, membangun petak rumah berdinding kayu dan papan, beratap seng seadanya, kemudian membentuk komunitas kecil pedagang kopi yang berkeliling dengan sepeda, menyebar ke sudut-sudut jalan Ibukota. Hingga saat ini jumlahnya mencapai 250 KK, dan masuk ke dalam wilayah administratif Kelurahan Senen. Termos es, termos air panas, bertengger rapi pada kotak kayu atau keranjang plastik yang didesain sedemikian rupa di bagian setang dan jok belakang sepeda, menunggu untuk diisi kembali oleh bongkahan es yang telah dipecah-pecah dan air panas yang dimasak pada dandang besar. Selain sepeda yang diparkir di depan rumah masing-masing, puluhan lainnya berjajar di depan kios besar yang nantinya akan menyuplai gula, gelas plastik, juga berbagai macam merk kopi dan minuman sari buah siap seduh, melengkapi kebutuhan para pedagang sebelum diajak kembali berkeliling.Selengkapnya »Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?

Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Halo 2018!

Senang bisa berjumpa denganmu.

Semoga banyak pula kesenangan yang bisa saya jumpai di tahun ini.

Seperti kesenangan saat mendengar kabar bahwa kegiatan Ngojak offline akan kembali diadakan. Suka cita saya mendengar kabar ini. Butuh waktu 84 hari menunggu dalam rindu agar saya bisa kembali ikut merasakan kesenangan mengenal kota Jakarta tercinta. Membaca Jakarta, melalui kegiatan Ngojak offline yang kali ini mengambil tema “#Ngojak11 – Cikini; Bentrok Ideologi di Kampung Juang”.

Ngojak offline adalah sebuah kegiatan kopi darat yang diinisiasi oleh para pegiat apresiasi kehidupan kota. Kehidupan yang mencakup ruang, sejarah, budaya, tradisi, lingkungan dan manusia. Para penggiat ini memfokuskan kegiatan mereka di kota Jakarta, mereka menamakan diri dengan nama Ngopi Jakarta atau Ngojak.Selengkapnya »Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Pages: 1 2 3 4

Refleksi Awal Tahun; Jangan Berhenti Membaca Jakarta

Menyeragamkan cara pikir adalah mustahil, alih-alih menuntut orang lain bertindak seperti yang diinginkan tanpa penjelasan, itu jauh lebih tidak mungkin. Bagaimana sebuah kota dapat memberikan hal layak, juga baik, bagi keberlangsungan hidup orang-orang di dalamnya tanpa adanya apresiasi. Entah itu terhadap historinya, budaya yang dilakoni oleh masing-masing kelompok, lingkungan sekitar, hingga pada proses membangun interaksi sosial antar individu.

Sejak memutuskan untuk mengikuti aliran Cilwung setahun silam yang berawal dari perjalanan ke Karadenan pada bulan Agustus 2016, Ngopi Jakarta terus mencoba menggali apa saja yang bersinggungan dengan entitas keberadaan manusia-manusia di Jakarta. Tak hanya membahas keberadaan ruang -dan transformasinya karena kapitalisasi kota, tuntutan modernisasi, tapi juga mencoba melakukan pendekatan makna. Meyakini bahwa Ciliwung adalah salah satu saksi perubahan tingkah laku warga kota. Jika dulu warga di Kampung Makasar masih bisa menikmati aliran Ciliwung yang jernih, mengapa saat ini mereka terus mengeluhkan bau limbah dan waswas akan meluapnya air saat musim hujan. Atau warga Kampung Tanah Rendah di Jatinegara dan kampung-kampung lainnya di Jakarta, yang seakan sudah tak tahu lagi bagaimana cara untuk mendapatkan air bersih dengan mudah, dan murah.Selengkapnya »Refleksi Awal Tahun; Jangan Berhenti Membaca Jakarta

Lima Lagu Tentang Jakarta

Jakarta (dan banyak kota besar lain) adalah magnet yang sangat besar untuk orang-orang daerah yang mempunyai anggapan classic rock akan harapan kehidupan yang lebih baik. Sesaknya tiap-tiap ruang yang ada di Jakarta tak lepas dari orang-orang urban semacam ini. Jakarta bagai laut yang menampung muara anak sungai yang mengalir ke sana, ada banyak riak juga keruh berkelindan bersamanya. Kota yang diumpati seribu umat.

Meski begitu, seberapapun seringnya kita misuh-misuh tentang Jakarta, nyatanya Jakarta tetap ada dalam sudut hati yang paling tak terjamah. Jika kalian meninggalkan kota ini, katakanlah sedang tugas di luar kota atau hal lain yang membuat kalian meninggalkan kota ini untuk beberapa waktu. Pada akhirnya rindu terlarang itu datang juga. Kalian mulai merindukan macetnya, berdesakan dengan orang-orang di KRL, atau juga pemandangan warung pinggir jalan yang memakan ¾ badan jalan. Untung saja Jakarta bukanlah kota yang buruk-buruk amat untuk membuat bungah, meski dalam kadar yang tak pernah benderang. Untungnya lagi, dalam suasana seperti itu masih ada seniman yang membuat karya mengenai kota Jakarta. Ini adalah deretan lima lagu tentang jakarta yang mungkin bisa mengobati rindu terlarang kalian jika sedang tidak di Jakarta. Jakarta adalah paradok itu sendiri, kota yang menawarkan harapan lebih baik di samping kemiskinan yang tidak lebih baik.Selengkapnya »Lima Lagu Tentang Jakarta

Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini.Selengkapnya »Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan.Selengkapnya »Beristirahatlah, Jakarta!

24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pak pung… Pak mustape…
Enci dula… Di rumahnye…
Ada tepung… Ada kelape…
Gula jawa… Di tengahnye…

Bersenandung sambil jalan ala Syahrini ternyata menyenangkan. Pasalnya, 3 kali bolak balik Tangerang – Duri – Tangerang – Duri – Tangerang lagi, baru akhirnya nungguin di Stasiun Duri. Oke, ini gak nyambung. Kali ini dalam rangka meramaikan 24 Hour Project, beberapa pasukan NgoJak ikut keluyuran melihat aktivitas apa saja selama 24 jam terakhir di kota Jakarta. Peralatan perang udah siap: 2 Hape, Power Bank, jas hujan, plastik lebar, kompor dan nesting. Seharusnya pagi ini pasukan sudah lengkap, tapi sayangnya masih ada yang masih nyungsep di kasur.Selengkapnya »24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pages: 1 2