jakarta

Di Jakarta, Kiamat Maju Mundur

  • by

Tak ada beda matahari yang terbenam hari ini dan yang akan muncul besok pagi. Matahari yang sama, kecuali Tuhan memutuskan kiamat terjadi di antara dua waktu itu. Tapi, siapa yang percaya kiamat akan terjadi tiba-tiba?

Pembaca teks agama percaya kejadian itu akan dimulakan dengan salah terbitnya matahari – dari tempat terbenamnya, terkikisnya jumlah manusia yang beriman kepada Tuhan, dan munculnya Dajjal yang menguasai dunia. Para pembaca semesta memercayai bahwa kiamat akan diperkenalkan dengan mendekatnya lubang hitam (black hole) di jagad raya. Ia akan melahap semua yang ada, memindahkan himpunan tata surya ke alam antah berantah yang belum pernah dikenal. Para pembaca lingkungan meyakini bahwa dunia telah berada dalam rel menuju kiamat setelah gunung es mencair lebih cepat daripada laju pencairannya berdekade-dekade lalu, lapizan ozon menipis, langit menjadi gudang karbon, eksplorasi minyak dikebut, dan produksi asap tak juga berhenti.Selengkapnya »Di Jakarta, Kiamat Maju Mundur

Blusukan di Belantara Jakarta

Blusuk merupakan suku kata dalam bahasa Jawa, yang berarti masuk ke sebuah tempat asing. Imbuhan ‘an’ pada kata blusuk, menjadi ‘blusukan’ adalah sebuah aktivitas untuk mengetahui atau mencari sesuatu ke tempat yang jarang dikunjungi atau dilihat oleh publik sebagai tempat tujuan.

Apa yang menarik dari blusukan? Tentu sebuah kepuasan batin, sekaligus mencari hal baru dalam upaya penjelajahan mencari sesuatu. Blusukan atau mBlusukan adalah sebuah aktivitas lama, yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Ir. Joko Widodo saat menjabat sebagai Walikota Surakarta. Aktivitas tersebut diteruskan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan kemudian Presiden Republik Indonesia.

Aktivitas blusukan biasanya dilakukan oleh pejabat yang agak “rock n roll’, santai, tidak mau berjarak dengan rakyat atau berupaya menyerap aspirasi rakyat secara face to face, tanpa jarak dan briokrasi, sejak masa lalu hingga kini. Saya membaca berbagai tulisan sejarah, biasanya pemimpin yang gemar blusukan. Dia akan lebih dikenal oleh rakyat dan tercatat sebagai pemimpin yang baik dalam catatan sejarah. Ini bukan berarti saya mengagungkan Joko Widodo, ya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan unsur dukung-mendukung.Selengkapnya »Blusukan di Belantara Jakarta

Moyangku Adalah Pelaut

Banyak orang yang mengira, Jakarta hanya daratan yang ada di pulau Jawa saja. Orang-orang lupa dan bahkan tidak tahu, bahwa Kepulauan Seribu juga menjadi bagian dari DKI Jakarta. memang harus dimafhumi, bahwa ketidaktahuan itu merupakan sebuah kealpaan, di mana mereka karena kesulitan hidup atau kemampuan mendapatkan pengetahuan mengenai daerah Kepulauan Seribu. Daerah ini merupakan satu-satunya daerah setingkat Kabupaten di DKI Jakarta yang luasnya seluas Kabupaten Bekasi atau Karawang, tetapi memang daerahnya hampir 85 persennya merupakan lautan.

Tidak dapat disangkal, potensi besar Kepulauan Seribu bagi sektor pangan, pariwisata serta sejarah amat besar. Sejak masa kolonial, pulau-pulau di Kepulauan Seribu telah dijadikan daerah pertahanan, galangan kapal dan bengkelnya, isolasi haji serta tanah pembuangan. Pulau seperti Edam (Damar), Onrust, Tidung, Sebira dan yang lainnya di sisi utara, mempunyai potensi wisata sejarah dan ziarah bagi DKI Jakarta sendiriSesuatu yang menarik untuk dicermati secara geografis, gugusan pulau di Kepulauan Seribu hanya berjumlah 106-113 pulau saja, bahkan secara geografis, pulau-pulau itu lebih dekat ke propinsi Jawa Barat, Banten dan Lampung.Selengkapnya »Moyangku Adalah Pelaut

Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Jakarta sebagai Ibukota selalu menggambarkan kota-kota besar layaknya di negara besar lainnya. Pusat Jakarta memperlihatkan kemegahan dan keistimewaan hidup jika dilihat sebagai sebuah lingkup kota metropolitan yang diusungnya. Terdapat gedung-gedung megah bertingkat kanan-kirinya, mal-mal besar bersanding satu sama lainnya. Kota Jakarta bahkan tidak pernah tidur selama 24 jam dalam  sehari, untuk memenuhi kebutuhan manusianya dalam memenuhi hasrat-hasrat manusia modern. Lain daripada pembahasan soal pusat kota, Jakarta selalu bertarung dengan kampung kota dalam membangun kemewahannya. Pusat kota bukan saja menggusur sebagian besar kampung yang memiliki cerita besar di dalamnya. Pada lain pihak, kampung kota menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para manusia yang tinggal di Jakarta, karena Jakarta bukan hanya ada di pusat kotanya saja.

Permukiman di Indonesia, pada umumnya memiliki 3 tipe permukiman, seperti tipe permukiman yang terencana (Well-Planned), tipe permukiman kampung dan tipe permukiman pinggiran/kumuh. Dalam konteks perumahan perkotaan, kampung merepresentasikan konsep housing autonomy dimana warga kampung mempunyai kebebasan dan otoritas untuk menentukan sendiri lingkungan kehidupan mereka. Kampung juga merepresentasikan apa yang dikatakan Turner sebagai housing as a process, as a verb. Konsep ini memaknai bahwa pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah/MBR, tidak bisa dilihat sebagai satu one stop policy, melainkan sebagai proses menerus yang dinamik seiring dengan proses pengembangan sosial dan ekonomi warga kota.Selengkapnya »Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya