inspirasi

Sayap yang Berguguran

  • by

Dulu, saya berpikir bahwa candaan sarkastik dan gunjingan hanya bersisa di lorong-lorong pemukiman padat. Setidaknya demikian yang melintas di kepala saya ketika harus melewati gang sempit antara Salemba dan Cikini nyaris setiap hari. Nyatanya tidak. Ruangnya semakin menggelembung, bahkan terkoneksi dari satu telepon ke telepon lain. Telepon pintar, smart phone, kata dunia industri. Hiruk pikuk belakangan menegaskan itu hingga terang benderang. Perdebatan, saling unjuk dada dan tuding jari di media sosial menjadi teramat dangkal, tidak melebihi esensi dari lapisan bedak yang melumpuhkan rasa malu.Selengkapnya »Sayap yang Berguguran

Setapak Senyap Muhidin M. Dahlan

10922569_10203854435427428_7813537766879373254_n

Seorang kawan menulis, “Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.” Ya, membaca memang selalu menyediakan ruang perenungan, ada jeda yang akhirnya bisa menakar ulang teks. Ini berimbas pada kehati-hatian ketika hendak melontarkan sesuatu. Bagi orang-orang yang mengkhidmati proses membaca, berkomentar sebisa-bisa ditimbang dengan matang agar tak jadi ucap prematur yang asal hambur.

Membaca yang kerap diikuti dengan menulis, di semesta dunia literasi memang tak bisa dipisahkan. Orang yang banyak baca, sekiranya dia menulis, pasti tulisannya ga jelek-jelek amatlah, begitu kira-kira. Dan sekali ini saya hendak menghamparkan satu kisah pendek, tentang seorang yang bergelut dan memilih jalan hidup sebagai pembaca dan penulis.Selengkapnya »Setapak Senyap Muhidin M. Dahlan

Rubik dan Sebentuk Energi

Suatu pagi, sepulang kerja, saya mampir ke tukang fotokopi untuk membeli sampul plastik beberapa buku. Di sana, saya melihat ada beberapa rubik digantung di atas etalasa kaca depan, ketika saya pegang, salah satu rubik itu jatuh dari gantungannya. Mungkin ini jalan untuk benda ini jadi milik saya, pikir saya waktu itu. Sejujurnya saya masih percaya pertanda.

Saya beli dan bawa rubik itu pulang. Sampai di rumah, Nada ,-anak saya- memegang rubik itu dengan tampang heran bercampur senang, sambil tak henti-hentinya bertanya. Ini apa, Pak? Mainnya gimana? Kok bisa diputer? Ini buat Nada? Dedek boleh ikutan main? Seperti anak kecil seusianya yang selalu penasaran, matanya berkilat-kilat melihat mainan yang baru pertama kali ia lihat, tanpa peduli bagaimana cara memainkannya.Selengkapnya »Rubik dan Sebentuk Energi