Ciliwung

Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Di prasasti setinggi kurang lebih 2.5 meter itu tertulis, “Bulan Agustus, Musim Gugur Tahun 1761. Atas dasar rasa tanggung jawab, dari hasil pengumpulan sumbangan secara sukarela, maka dibukalah tanah ini untuk pemakaman, untuk menenangkan arwah-arwah yang menangis, tempat peristirahatan arwah-arwah, dan dengan harapan agar dikenang oleh para penerus… “.

Selanjutnya di bawahnya tertulis nama-nama para penyumbang, yang mana Jia Bai Dan Lin/Kapitan Lin sebagai penyumbang terbesar sebanyak 1000 koin emas dan Wu Zhi Mi Shi dan Hua penyumbang terkecil dengan 10 koin emas. Prasasti yang terletak di halaman Klenteng Di Cang yuan/Vihara Tri Ratna di Jalan Lautze 64 ini memuat peringatan tentang perluasan pekuburan Gunung Sahari. Dan ini merupakan pertanda bahwa di Sawah Besar, Kemayoran, dan sekitarnya merupakan kompleks kuburan bagi warga Tionghoa di sekitaran tahun 1761 sebelum dan sesudahnya.Selengkapnya »Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Menjelajahi Pasar Baru

Sekitar 40 orang sudah berkumpul di depan pintu keluar Stasiun Juanda, Jakarta Pusat sejak pukul 08.30 WIB. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Tetapi berkumpul menjadi satu untuk mengeksplor bersama Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas bernama Ngopi Jakarta (NgoJak) ini memang rutin dilakukan sebulan sekali. Destinasinya pun selalu berbeda-beda. Tujuannya untuk melihat ruang-ruang publik yang ada di Jakarta dan belajar bersama mengenai sejarah suatu tempat.

Kali ini destinasi yang dituju adalah Pasar Baru. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menuju kantor berita Antara, Jalan Antara Nomor 24, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Selengkapnya »Menjelajahi Pasar Baru

Tujuh Jam di Pasar Baru

Kalau bicara soal Pasar Baru, yang melintas di pikiran saya adalah toko bahan pakaian, toko sepatu lawas semacam Bata & Buccheri, tempat bikin jas yang terkenal sejak dulu kala, dan jajanan kaki lima yang enak-enak. 😀

Kemarin, bareng Ngopi Jakarta (Ngojak), saya dan Embun jalan-jalan keliling Pasar Baru dan sekitarnya, dari pagi sampai sore. Dari wangi sampe kuyup. Dari laper, kenyang, laper lagi, kenyang lagi. Dari asing jadi sayang.Selengkapnya »Tujuh Jam di Pasar Baru

Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Jakarta adalah pusat geliat ekonomi Indonesia. Daerah bisa saja memiliki komoditas, tenaga kerja, bahkan pabrik dan lahan usaha, namun jika bicara perputaran modal, manajemen, dan hulu bisnis, maka pusatnya adalah Jakarta. Persentase GDP Jakarta dari GDP Indonesia mencerminkan bagaimana hebatnya geliat ekonomi di ibukota.

Siapa sangka, sejarah panjang ekonomi Jakarta (dulu Batavia), dulu sempat ditopang hanya dengan satu ruas jalan sebagai infrastruktur. Jalan yang menghubungkan dua pasar tertua di “Batavia baru”, sejak pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Tua ke Weltevreden.

Adalah seorang Justinus Vinck, pengusaha kaya asal Belanda, yang berperan penting menggerakkan ekonomi Weltevreden. Pada 1735 dia membeli dua lahan besar untuk dijadikan pasar, satu di Tanah Abang dan satu di daerah timur Weltevreden.

Lahan di Tanah Abang ia beli dari keluarga pengusaha dan Kapten Cina Phoa Bingham. Bingham sendiri terkenal karena inisiasinya membuat kanal di Tanah Abang untuk sarana transportasi komoditas dari selatan ke Kota Tua pada 1648. Saat dibeli Vinck, lahan Tanah Abang dipergunakan keluarga Bingham sebagai perkebunan tebu, pertanian, dan peternakan. Lahan ini kemudian sejak 1735 disulap Vinck menjadi Pasar Saptu. Sesuai namanya, pasar hanya buka setiap hari Sabtu, dan jualan utamanya adalah tekstil serta barang kelontong.Selengkapnya »Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Mengunjungi Senen di Hari Sabtu

Sabtu 24 Februari, bersama Komunitas Ngopi Jakarta (Ngojak) saya beserta 41 peserta lain yang sebagian besar sudah sering bertemu baik online maupun offline berencana untuk menyusuri kawasan Kramat-Kwitang dan perjalan tersebut kami beri nama “Kramat-Kwitang: Yang lamat-lamat menghilang”.

Sinar matahari bersinar terang seakan ingin menunjukan keindahan hasil karya penciptanya, jalan beraspal terasa hangat untuk dipijak namun terasa panas jika dijilat, asap kendaraan bercampur dengan debu diiringi suara deru kendaraan terdengar bising namun lumrah adanya, dan kami nyatanya telah terbiasa dengan keadaan ini.

Dikarenakan Sabtu itu ada tugas negara maka saya baru bergabung dengan kawan-kawan Ngojak sekitar pukul 12:00 WIB. Persinggahan pertama yang saya kunjungi bersama kawan-kawan Ngojak adalah Masjid Jagal Al-Arif, masjid tersebut dibangun tahun 1695 (walaupun di masjid tersebut ditulis 1600) oleh seorang Bangsawan Kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) Daeng Upu Arifuddin (meninggal 1745) dan dimakamkan di area Masjid Al-Arif). Kemudian nama beliau diabadikan menjadi nama Masjid Jagal Al-Arif, sebelum 1969 nama masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Jagal Senen. Lokasi yang berada tepat di area Pasar Senen mambuat Masjid tersebut selalu ramai disinggahi untuk Beribadah maupun hanya sekedar melepas lelah oleh para pedagang Pasar Senen dan masyarakat umum yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.

Setelah kurang lebih setengah jam kami melakukan Ibadah Sholat Dzuhur sambil istirahat di area Masjid Al-Arif perjalanan pun berlanjut, kami memasuki kawasan Pasar Senen. Pasar yang di bangun pada Tahun 1735 tersebut mungkin sudah sering kita kunjungi atau hanya sekedar kita lewati dan melihat sekilas saat melintas di depan pasar tersebut. Pasar yang sudah beberapa kali terbakar tersebut lebih terlihat tertata rapih jika dibandingkan dengan keadaan 5-10 tahun yang lalu, di mana para pedagang berdagang di area trotoar depan pasar bahkan sampai memenuhi bahu jalan walaupun sekarang di beberapa sudut pasar masih terlihat tumpukan sampah di sana-sini. Di dalam area Pasar Senen kita bisa mendapati satu blok (blok Batak) yang menjual berbagai macam makanan khas Sumatera Utara dan juga beberapa kios penjual buku-buku bekas yang masih bertahan di era digital sekarang ini.Selengkapnya »Mengunjungi Senen di Hari Sabtu

Yang Lamat-lamat Menghilang

Kramat dan Kwitang, 2 nama kampung tua di Jakarta ini terus bertahan dari deru geliat zaman.

Kampung Kramat yang merupakan pengembangan dari kampung tua Senen yang awalnya hanya sebidang pasar yang dibangun Justinus Vinck di tahun 1735 untuk memenuhi kebutuhan kota baru Weltervreeden di daerah Gambir dan sekitarnya sekarang.

Kampung Kwitang, kampung ini diperkirakan sudah ada dari abad 17. Toponim Kwitang dikatakan berasal dari nama seorang pendekar Tiongkok, Kwee Tiang Kiam, yang berkelana dan akhirnya menetap di daerah Kwitang sekarang ini. Ada cerita lain yang mengatakan Kwee Tang Kiam adalah seorang tuan tanah yang kaya raya. Saking luas tanahnya, orang orang menyebutnya kampung si Kwee Tang.Selengkapnya »Yang Lamat-lamat Menghilang

Baur Politik Seni Cikini

Bagi sebagian kalangan, boleh menganggap Cikini sebagai kantung kesenian, dengan kehadiran komplek Taman Ismail Marzuki. Atau boleh juga mereka lekatkan sebagai medan politik, menilik beberapa kantor partai politik bermukim di sini. Tidak ada yang salah dengan identifikasi Cikini tersebut, tergantung dari irisan mana kita menikmati Cikini. Beruntung bagi saya sebab bisa sedikit menikmati sebagian irisan tadi.

Suatu Sabtu pagi sekitar pukul 06:00 WIB, saya mengayuh sepeda, melewati jalan menuju stasiun Cikini dari arah Jalan Cikini Raya. Pagi yang masih lengang, kafe-kafe yang berderet belum pulih beristirahat dari malamnya, dan aspal yang masih menyisakan basah hujan.

Bersama komunitas Ngopi Jakarta (Ngojak), saya turut serta dalam jelajah yang niatnya mengambil rute memutar. Komunitas yang berangkat dari premis peradaban manusia bermula dari sungai ini, tentu memasukkan rute jalur Kali Ciliwung dalam daftar Cikini.Selengkapnya »Baur Politik Seni Cikini

Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?

Segerombol anak kecil berusia sekolah berlarian menyeberangi jembatan, yang memisahkan dua kampung berisikan rumah-rumah berdinding tepas yang tampak berderet di kedua sisinya. Begitu melintasi gapura berwarna merah pada jalan masuk kampung, yaitu hasil dari sponsor perusahaan kopi lokal, terlihat berbagai macam aktivitas sederhana yang dilakukan warga. Mulai dari mencuci baju, memberi makan ayam atau bebek peliharaan berjumlah ala kadarnya, dan sebagian lainnya memilih sibuk memasak untuk dikonsumsi oleh keluarga atau dijual kembali pada usaha warung makan yang dimiliki.

Sebelum sebuah hotel berbintang lima yang berada tepat di sekitaran Tugu Tani dibangun, diperkirakan pada akhir tahun 1970an, pinggiran Ciliwung daerah Kwitang telah mulai dipadati pendatang dari Madura. Para perantau menetap bersisian dengan aliran Kali Ciliwung, membangun petak rumah berdinding kayu dan papan, beratap seng seadanya, kemudian membentuk komunitas kecil pedagang kopi yang berkeliling dengan sepeda, menyebar ke sudut-sudut jalan Ibukota. Hingga saat ini jumlahnya mencapai 250 KK, dan masuk ke dalam wilayah administratif Kelurahan Senen. Termos es, termos air panas, bertengger rapi pada kotak kayu atau keranjang plastik yang didesain sedemikian rupa di bagian setang dan jok belakang sepeda, menunggu untuk diisi kembali oleh bongkahan es yang telah dipecah-pecah dan air panas yang dimasak pada dandang besar. Selain sepeda yang diparkir di depan rumah masing-masing, puluhan lainnya berjajar di depan kios besar yang nantinya akan menyuplai gula, gelas plastik, juga berbagai macam merk kopi dan minuman sari buah siap seduh, melengkapi kebutuhan para pedagang sebelum diajak kembali berkeliling.Selengkapnya »Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?