budaya

Arswendo, Jurnalisme Lher, dan Gus Dur

Di bulan-bulan pertama menjadi wartawan di sebuah koran terbitan sore pada pertengahan 1990-an, redaktur perkotaan menugasi saya meliput perubahan kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Kawasan kumuh ini sebelumnya langganan banjir. Tapi kemudian berubah berkat sentuhan inspiratif lurah baru. Sukarta, asal Cirebon.

Setiap akhir pekan si Lurah biasa turun membersihkan got-got di kawasan itu secara bergilir. Lama-lama warga sungkan dan ikut membantu. Tak cuma got, sungai yang membelah kawasan itu pun ikut dibersihkan bersama-sama.

Hasilnya, setiap kali hujan air menggelontor di saluran tanpa meruah ke pemukiman. “Kalau hujan sangat deras dan lama, paling air cuma sampai bibir sungai. Enggak sampai meluap ke rumah-rumah,” ujar seorang warga.Selengkapnya »Arswendo, Jurnalisme Lher, dan Gus Dur

Seberapa K-Pop Lo? Seberapa Koplo?

Sebuah ungkapan yang sepele. Pada dasarnya sah-sah saja orang memilih untuk dirinya sendiri kesenangan, baik itu musik, drama, pertunjukan kesenian, idola, bahkan ideologi. Tidak ada yang salah ketika dia menetapkan suatu standar hiburan bagi dirinya, entah itu yang mahal atau yang murah. Toh, orang lain tidak berhak menghakimi kesenangan dirinya. Sebab kebebasan manusia dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945 bahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Nah, di zaman millennial ini sebagai manusia bebas di ibukota yang individualiitas warganya tercipta oleh kondisi lingkungannya, mereka dapat dengan sebebas-bebasnya memilih hiburan untuk menenangkan dan menyenangkan dirinya sendiri, salah satunya adalah Drama Korea dan K-Pop.

Sekat-sekat kebudayaan menjadi hilang, sehingga bocah-bocah milennial, lebih mengenal artis K-Pop macam Black Pink, Exo atau BTS ketimbang grup SLANK, Sheilla On 7, PADI, DEWA 19. Sebab karya mereka terus-menerus diputar, didengar dan diperdengarkan, diunggah di media sosial atau sekadar dinikmati di putaran ponsel, yang ironisnya, berasal dari negeri Ginseng tersebut.

Adakah yang salah dari kondisi itu? Sama sekali tidak. Sama sekali tidak. Lalu apa?Selengkapnya »Seberapa K-Pop Lo? Seberapa Koplo?

Deddy Dhukun, Rhoma Irama, dan Vanessa Angel

Kejutan itu bernama Deddy Dhukun (DD). Dia muncul di tengah acara halal bihalal SMALIX, Sabtu (29/6), seraya melantunkan Aku Ini Punya Siapa. Lagu ini dirilis pada 1987, dan membuat nama mendiang January Christy (JC) kian berkibar sebagai penyanyi jazzy.

Susah juga ternyata / Punya pacar bermata liar / Sering kali memalukan / Dibuatnya aku tiada berharga

Hampir semua teman yang hadir fasih betul dengan lagu ini. Hal itu tak cuma terlihat dari komat-kamit di mulut, juga terekspresikan dari gerakan tangan dan lenggak-lenggok kepala mereka. Saya juga sebetulnya hapal, karena pernah mengoleksi album tersebut. Diam-diam saya pun bersenandung dalam hati, karena lebih suka menikmati eskpresi dan keceriaan teman-teman. Kami yang sudah berusia separuh abad seolah tenggelam bersama ke masa lalu.

Sebelum lagu itu, DD dan Dian Pramana Putra menciptakan Melayang yang juga dinyanyikan JC. Majalah musik, Rolling Stone menobatkan “Melayang” sebagai satu dari “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”.Selengkapnya »Deddy Dhukun, Rhoma Irama, dan Vanessa Angel

Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Di prasasti setinggi kurang lebih 2.5 meter itu tertulis, “Bulan Agustus, Musim Gugur Tahun 1761. Atas dasar rasa tanggung jawab, dari hasil pengumpulan sumbangan secara sukarela, maka dibukalah tanah ini untuk pemakaman, untuk menenangkan arwah-arwah yang menangis, tempat peristirahatan arwah-arwah, dan dengan harapan agar dikenang oleh para penerus… “.

Selanjutnya di bawahnya tertulis nama-nama para penyumbang, yang mana Jia Bai Dan Lin/Kapitan Lin sebagai penyumbang terbesar sebanyak 1000 koin emas dan Wu Zhi Mi Shi dan Hua penyumbang terkecil dengan 10 koin emas. Prasasti yang terletak di halaman Klenteng Di Cang yuan/Vihara Tri Ratna di Jalan Lautze 64 ini memuat peringatan tentang perluasan pekuburan Gunung Sahari. Dan ini merupakan pertanda bahwa di Sawah Besar, Kemayoran, dan sekitarnya merupakan kompleks kuburan bagi warga Tionghoa di sekitaran tahun 1761 sebelum dan sesudahnya.Selengkapnya »Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Penghangat Makanan

 “Ini adalah penghangat makanan yang sering digunakan pelajar muslim untuk menyimpan makanan sahur,” ujar Suster Museum Biara Ursulin Santa Maria saat sedang memandu kami, rombongan pengunjung dari Ngopi Jakarta, berkeliling bulan lalu di Jakarta.

Saya terdiam, lalu menatap lekat kotak seukuran satu kali satu meter itu. Kotaknya berbahan kayu dengan cantelan gembok. Masih terlihat kokoh walaupun usianya sudah lebih dari seratus tahun. Suster membuka bagian atap kotak dan menunjukkan kepada kami kain serupa karung goni. Kasar, tebal, dan luas.

Pada masa itu belum ada alat-alat dapur berteknologi tinggi semacam kulkas, magic com, apalagi microwave. Biasanya, Suster yang bertugas di area dapur akan masak sehari tiga kali untuk seluruh penghuni biara. Lalu, makanan yang dimasak akan habis dalam satu kali hidang.Selengkapnya »Penghangat Makanan