Betawi

Di Jakarta, Kiamat Maju Mundur

  • by

Tak ada beda matahari yang terbenam hari ini dan yang akan muncul besok pagi. Matahari yang sama, kecuali Tuhan memutuskan kiamat terjadi di antara dua waktu itu. Tapi, siapa yang percaya kiamat akan terjadi tiba-tiba?

Pembaca teks agama percaya kejadian itu akan dimulakan dengan salah terbitnya matahari – dari tempat terbenamnya, terkikisnya jumlah manusia yang beriman kepada Tuhan, dan munculnya Dajjal yang menguasai dunia. Para pembaca semesta memercayai bahwa kiamat akan diperkenalkan dengan mendekatnya lubang hitam (black hole) di jagad raya. Ia akan melahap semua yang ada, memindahkan himpunan tata surya ke alam antah berantah yang belum pernah dikenal. Para pembaca lingkungan meyakini bahwa dunia telah berada dalam rel menuju kiamat setelah gunung es mencair lebih cepat daripada laju pencairannya berdekade-dekade lalu, lapizan ozon menipis, langit menjadi gudang karbon, eksplorasi minyak dikebut, dan produksi asap tak juga berhenti.Selengkapnya »Di Jakarta, Kiamat Maju Mundur

Dari Indonesia? Sebelah Mananya Condet?

Senandung pujian bergema lewat corong pengeras suara.  Iringan rebana membuat malam di Condet begitu panjang. Para jemaah makin hanyut ketika tiba pada syair ‘mahalul qiyam’. Mereka berdiri seraya membaca, “Ya Nabi Salam Alaika, Ya Rasul Salam Alaika, Ya Habib Salam Alaika, Shalawatullah Alaika”. Di sudut lain, beberapa jamaah nampak menangis, seakan merasakan kehadiran Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

Dari pinggir warung nasi yang ada di seberang masjid, antrian yang menahan lapar mulai menjalar.  Diselingi deru dan bising kendaraan yang lalu lalang, nasi putih dengan bebek goreng sebagai menu andalan. Empat deretan bangku plastik masih diduduki yang entah siapa dan dari mana. Dalam situasi seperti ini, kadang kenikmatan tergadai dengan rasa tak enak lainnya karena sebuah kursi duduk giliran. Tapi urusan perut bisa saja membuat segalanya menjadi khilaf.Selengkapnya »Dari Indonesia? Sebelah Mananya Condet?

Memaknai Privilese Ibukota

255 juta jiwa sekian-sekian, saya tak lagi tahu pasti berapa penduduk Indonesia saat ini sejak Bang Rhoma vakum di kancah perdangdutan nasional hingga lebih memilih jalur eksis di dunia politik. Sekitar lima persen menjadi komuterian di Jakarta dari pagi hingga sore hari, dan tinggal tiga persennya saja yang benar-benar menetap, itu pun bukan masyarakat asli Betawi, alias sudah mengalami heterogenitas ras juga etnis.

Sejak awal abad ke-20 dan khususnya setelah Pengakuan Kedaulatan (1949), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi – dalam arti apa pun juga – tinggal sebuah minoritas. Pada tahun 1930 suku Betawi mencakup 36,2% dari jumlah penduduk Jakarta di waktu tersebut. Pada tahun 2000 mereka menjadi 27,6 persen saja. Semakin berkurang hingga tahun ini, terdesak ke pinggir, bahkan ke luar Jakarta.

Selengkapnya »Memaknai Privilese Ibukota