Hujan dan G[K]enangan Masa Kecil

Seperti malam-malam sebelumnya, aku masih setia duduk di kursi ini. Menatap jendela, melihat lautan. Tapi bedanya hari ini turun hujan dan lautan tidak tenang. Ombaknya menari ke sana kemari.  Aku tidak bisa menebak apakah dia menari gelisah, khawatir, atau cemas karena volume air di mana-mana akan bertambah. Bisa saja terjadi banjir bahkan tsunami atau dia menari gembira, bersorak riang karena kawan airnya turun dari langit merayakan berkah hari ini. Tanaman-tanaman bisa minum sepuasnya setelah seharian kehausan karena sinar matahari yang cukup membuat dedauanan bahkan akarnya kering. Entah…

Oh ya! Satu lagi yang berbeda hari ini, biasanya di mana-mana orang menyukai kopi, tempat nongkrong bertemakan kopi, kumpul dengan teman atau meeting bisnis ditemani secangkir kopi, stres pun kopi obatnya, everything is coffee. Tapi apa daya bagiku yang perutnya tidak bisa menerima kopi. Sempat ingin seperti orang-orang kebanyakan, nyoba-nyoba minum kopi di sebuah kafe terkenal, eh, malah berakhir di rumah sakit. Tapi tenang sekarang aku akhirnya mendapatkan satu lagu yang berbeda dari tren saat ini, judulnya “Sebuah Lagu – Payung Teduh”, lagu yang akhirnya dapat menemani aku bukan dengan secangkir kopi tapi secangkir teh. Ah senangnya…Jadilah aku duduk manis, melihat hujan, ombak laut beserta daftar lagu baruku. Tentunya sendirian. Aku seperti biasa melihat ke jendela, bergulat dengan banyaknya pertanyaan di otakku yang entah bisa terjawab apa tidak. Kulihat tetesan air hujan yang turun, menikmatinya sambil mendengar beberapa orang yang berkomentar macam-macam mengenai hujan.

“Ah, kenapa hujan gak berhenti-berhenti sih, kapan pulangnya kalau gini?!”
“Hujannya serem banget ya, kasian yang rumahnya hancur karena angin besar, jangan-jangan bakalan banjir!”
“Duh, pasti arah pulang macet banget, gimana nih?!”
“Akhirnya hujan, jadi gue bisa tidur nyenyak malam ini karena sejuk”
“Tunggu reda aja ya pulangnya, nanti sakit, cuacanya ga bagus”
“Yey, kalau banjir, besok libur sekolah hahaha”
“Jemuran gue basah lagi deh”
“Yahhh baru nyuci motor tadi pagi”

Dan banyak lainnya yang aku dengar malam ini mengenai hujan.
Hujan yang turun satu kali saja pandangannya banyak sekali. Padahal dia hanyalah kumpulan air kecil yang turun bersamaan. Mataku tetap masih terpaku ke jendela yang kini masih penuh titik-titik air mengalir. Bayangan orang di dalam ruangan terpantul samar-samar dengan ombak laut di luar. Potongan ingatanku seketika datang. Benar kata sebagian orang, hujan mendatangkan kenangan, entah sedih ataupun bahagia. Tapi kini aku memilih menyebutnya kenangan bahagia.

“Ki.. ki.. ki.. ayok ambil payung dirumah, kita ngojek payung,” kata kakakku saat aku sedang membantu mama membereskan dagangannya agar tidak terkena hujan. Maklum, Pasar Baru atapnya sudah tidak rapi lagi karena bolong di mana-mana.

Aku dan kakak berlari ke rumah mengambil payung dan kembali ke Pasar Baru bagian depan. Di sana sudah banyak kawan-kawanku berkumpul. Kita menunggu pengunjung yang turun dari mobil pribadinya untuk pergi berbelanja di toko-toko Pasar Baru, sebab saat itu mobil tidak boleh masuk ke dalam wilayah pasar baru. Ah… senangnya, hujan adalah pertanda bahwa kami akan punya uang jajan lebih besok hari, bahkan untuk seminggu kemudian.

Bagaimana tidak, kami terkadang jajan hanya Rp500,- sehari. Namun saat hujan dan mengojek payung, kami bisa mendapatkan hampir Rp10.000,- . Meski harus pulang dengan baju basah kuyup, tapi muka kami masih penuh dengan senyum pepsodent. Kadang di sela mengojek, kami berteriak gembira, “Yey besok jajan.. besok jajan..” sambil berlari mengejar langkah si penyewa payung yang rata-rata sudah dewasa. Langkahnya besar dan amat cepat bagi kami yang masih SD saat itu. Mereka yang mendengar pun kadang ikut tertawa atau hanya tersenyum kecil melihat tingkah kami. Bagiku sendiri, hujan adalah tanda aku bisa makan bubur krim ayam di KFC. Hahaha..

Ternyata dulu bahagiaku sesederhana ini. Andai waktu dapat kuulang, aku menyesal tumbuh menjadi dewasa secepat ini.  Jika tahu menjadi dewasa tidaklah sesederhana mengojek payung atau berdagang teh botol menggunakan ember, aku akan membujuk Tuhan untuk mengganti tanggal ulang tahunku menjadi tanggal 29 Februari, sehingga aku tidak perlu berulang tahun setiap tahun. Jadinya aku tak perlu cepat dewasa.

Duduk bersama tak melakukan apapun, keluh kesahkan perjuangan dan masa sulit, seduhan teh, dan persahabatan melunturkan lelah, jam dinding tak berjarum, sudah larut kaki enggan melangkah.

Lagu ini menyadarkan lamuanan kenangan bahagiaku bersama hujan. Ah.. hujan, terima kasih telah mendatangkan kenangan bahagiaku. Semoga banyak orang di malam ini yang sama denganku bertemu si kenangan, tapi bukan kenangan sedih yang membuatnya menangis. Melainkan kenangan bahagia yang membuatnya akan selalu menanti hujan dengan secangkir teh hangat dan mensyukurinya.

Mari kita pulang…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: