Blog

Yang Tersisih di Jalanan

Mengkritisi laku para wakil rakyat yang rajin melakukan studi banding ke luar negeri mungkin sebuah sikap yang usang. Media telah kenyang menyoroti hal itu. Namun selalu ada hal yang menggelitik, bukan soal anggaran yang dihambur-hamburkan, bukan pula tentang hobi belanja dan wisata yang dikerjakan di sana, tapi pernahkah mereka, para wakil rakyat itu, memperhatikan betapa nyamannya ruang publik bagi pejalan kaki di negara-negara yang mereka kunjungi. Bandingkan dengan Jakarta, di mana negara abai dan bahkan meminta maaf pun tidak, kepada pejalan kaki yang menyusuri trotoar, terperosok pada lubang gorong-gorong yang tidak ditutup, dan kakinya patah. Negara tidak hadir di trotoar.

Saya sering mendengar kabar, dan bahkan pernah beberapakali mengalami; “diusir” pemakai kendaraan bermotor dengan klakson yang keras dan berulang-ulang, untuk menyingkir dari trotoar. Jalan yang macet membuat pengendara motor naik ke trotoar dan mengusir saya yang sedang berjalan. Saya tak pernah bisa menerima hal seperti ini. Ketegangan selalu terjadi. Akal sehat si pengendara motor itu entah di mana, barangkali tercecer membusuk di tengah jalanan yang macet parah jahanam. Itu tantangan pertama, bagi siapa saja yang “berani-berani” memilih berjalan kaki di Jakarta.
Selengkapnya »Yang Tersisih di Jalanan

Ibukota Sampah

Duduk saya di warung kopi, tak jauh dari kali yang mengalir pelan, di dekat jalan Kodamar, Sumur Batu. Sekira pukul delapan malam waktu itu. Angin berhembus kencang pertanda akan segera turun hujan. Langit tak menyisakan bintang.

“Mama mau ke mana?,” itu suara anak kecil. “Tunggu bentar, mama mau buang sampah!,” saya yakin itu suara ibu-ibu, pasti orangtua anak kecil tadi.

Saya bertanya sama si Ijong, si penjual kopi, ihwal ibu yang hendak membuang sampah. “Bentar lagi hujan mas, ibu itu pasti buang sampahnya ke kali, biar sampahnya bisa langsung hanyut dan ga nyangkut-nyangkut, emang udah biasa di sini mah.” Dia menambahkan, padahal tukang sampah keliling yang biasa ngambil sampah ke rumah-rumah, setiap hari datang.Selengkapnya »Ibukota Sampah

Rezeki Tak Selebar Tanah Jakarta

Belum lama, peraturan menerobos jalur busway kembali mendapat perhatian warga Ibukota.  Jumlah denda yang tak tanggung-tanggung kepada mereka yang menerobos jalur busway adalah faktornya. Kendaraan roda empat atau lebih bakal kena denda Rp1 juta, sedangkan kendaraan roda dua akan dikenakan denda Rp 500 ribu. Jika dikalkulasikan, jumlahnya cukup lumayan untuk membeli bergelas-gelas kopi, tentu saja di warung kopi.

Meski denda baru diberlakukan hari Senin (11/11) kemarin, efek jera nampaknya mulai terlihat.  Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta (APTB) jurusan Ciputat-Kota misalnya, bus berwarna biru ini mengalami penghematan waktu tempuh lebih dari setengah jam.  Pihak Polda Metro Jaya bahkan menyebut angka penurunan penerbos jalur Busway sekitar 60-70 persen. Skenario ini sengaja dirancang pemda DKI untuk mengurai kemacetan di Ibukota.Selengkapnya »Rezeki Tak Selebar Tanah Jakarta

Ironi Kaum Terpelajar

Farid Gaban dalam bukunya yang berjudul Belajar Tidak Bicara pernah berkisah mengenai seorang oknum aparat militer yang bertengkar dengan seorang sopir angkot. Mereka beradu mulut, lalu oknum aparat tersebut mengancam dengan menyebut-nyebut jabatannya selaku pemegang hak legal senjata api. “Tunggu di sini!,” gertaknya. Merasa tidak bersalah, sopir angkot itu tak pergi. Selang beberapa saat oknum aparat datang lagi beserta seorang anak buahnya sambil menenteng sepucuk pistol. “Dor!” tembakan justru mengarah ke anak buahnya, sebab sebelum peluru itu muntah sopir angkot menangkis tangan si empunya senjata. Anak buahnya si oknum itu terkapar bersimbah darah.

Berita dari surat kabar, sekira bulan Juli 2013, seorang pengendara mobil yang masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, membuka portal yang sengaja dipasang di jalur bus Transjakarta. Waktu petugas menegurnya, dia menunjukkan kartu nama seorang Jenderal Kepolisian untuk menakut-nakuti petugas tersebut. Dia akhirnya lolos dan melenggang mengendarai mobilnya di jalur khusus bus.Selengkapnya »Ironi Kaum Terpelajar

Mitologi Optimistis

P1170341_edit

Kebudayaan itu bukan cuma ‘pameran lukisan’; ngopi juga kebudayaan, karena di sana bukan cuma ada perkara selera. ~ Seno Gumira Ajidarma

Baru-baru ini ada berita tentang seni latte art yang diciptakan dari sebuah mesin, bukan dari racikan jari-jari terampil sebagaimana yang kita kenal selama ini. Uniknya, hasil kreasi mesin tersebut bisa menampilkan hasil yang nyaris sempurna. Pelanggan tinggal menyerahkan foto yang diinginkan, dan dalam sekejap mesin tersebut akan melakukan scanning, lalu ditransfer ke mesin pembuat latte dan jadilah foto dalam kopi.

Mesin tersebut bisa saja dimusuhi siapapun yang berkecimpung di dunia latte art yang mengandalkan ketekunan dan kreasi tangan-tangan brilian. Dengannya, secangkir kopi bisa berhiaskan daun pakis, tokoh kartun, atau wajah sendiri yang terbubuhi busa di atas kopi.

“Sayang banget nih kalo diminum,” celoteh seorang teman ketika ditunjukkan foto latte art yang ada Angry Bird di atas kopi.

Beruntung sekali, kafe dengan mesin latte art tersebut tidak ada di Indonesia. Lebih beruntungnya, saya bukan penikmat kopi dengan ragam variasi dan embel-embel, bahkan warna sekalipun. Bagi saya, kopi adalah hitam. Tentu saja ini soal selera, karena seorang teman pernah berkata bahwa selera tidak bisa diperdebatkan.Selengkapnya »Mitologi Optimistis

Ngopi (di) Jakarta

 

Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. ~ Joko Pinurbo

Bahkan ketika malam telah sempurna menelan siang, dan suhu udara sudah mulai turun, Jakarta adalah tempat di mana kopi harus bergelas-gelas dituangkan jika kita taat kepada sepenggal puisi Joko Pinurbo di atas. Kalau mau jujur, rezeki bukan sekadar yang ditakar di penghujung hari, penghujung bulan, atau penghujung apa pun yang menandai masuknya uang ke kantong kita sebagai pendapatan. Rezeki lebih dari sekadar alat tukar yang berada di genggaman.

Dalam timbangan agama muncul kata “syukur” yang menunjuk kepada rasa terimakasih terhadap apa pun yang membuat kita bahagia, senang (sudah gajian,  misalnya), atau bernafas lega. Lebih dari itu, “syukur” adalah penanda, semacam garis demarkasi vertical antara “Yang Maha (Kuasa)” dan “yang biasa (lemah)”.

Pada kelahiran anak, hutang yang terbayar, istri yang cantik, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, bergoyang dalam irama dangdut, timnas U19 juara Piala AFF, sarapan lontong sayur, punya pacar yang pengertian, sembuh dari sakit, kenaikan gaji, dagangan laris-manis, dan hal-hal lain yang mampu menenteramkan ego; biasanya kata “syukur” punya tempat tersendiri yang  terhormat. Dalam pengertian yang luas, hal-hal demikian adalah rezeki juga.
Selengkapnya »Ngopi (di) Jakarta

Menjadi Merdeka

Alam bersuara, manusia berkelana. bumi ditapak, manusia berdecak.Merayakan hari kemerdekaan di seberang ujung barat pulau jawa, bukanlah peristiwa isap jempol semata. Ketika lirik lagu “Indonesia… Selengkapnya »Menjadi Merdeka