Blog

Arswendo, Jurnalisme Lher, dan Gus Dur

Di bulan-bulan pertama menjadi wartawan di sebuah koran terbitan sore pada pertengahan 1990-an, redaktur perkotaan menugasi saya meliput perubahan kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Kawasan kumuh ini sebelumnya langganan banjir. Tapi kemudian berubah berkat sentuhan inspiratif lurah baru. Sukarta, asal Cirebon.

Setiap akhir pekan si Lurah biasa turun membersihkan got-got di kawasan itu secara bergilir. Lama-lama warga sungkan dan ikut membantu. Tak cuma got, sungai yang membelah kawasan itu pun ikut dibersihkan bersama-sama.

Hasilnya, setiap kali hujan air menggelontor di saluran tanpa meruah ke pemukiman. “Kalau hujan sangat deras dan lama, paling air cuma sampai bibir sungai. Enggak sampai meluap ke rumah-rumah,” ujar seorang warga.Selengkapnya »Arswendo, Jurnalisme Lher, dan Gus Dur

Moyangku Adalah Pelaut

Banyak orang yang mengira, Jakarta hanya daratan yang ada di pulau Jawa saja. Orang-orang lupa dan bahkan tidak tahu, bahwa Kepulauan Seribu juga menjadi bagian dari DKI Jakarta. memang harus dimafhumi, bahwa ketidaktahuan itu merupakan sebuah kealpaan, di mana mereka karena kesulitan hidup atau kemampuan mendapatkan pengetahuan mengenai daerah Kepulauan Seribu. Daerah ini merupakan satu-satunya daerah setingkat Kabupaten di DKI Jakarta yang luasnya seluas Kabupaten Bekasi atau Karawang, tetapi memang daerahnya hampir 85 persennya merupakan lautan.

Tidak dapat disangkal, potensi besar Kepulauan Seribu bagi sektor pangan, pariwisata serta sejarah amat besar. Sejak masa kolonial, pulau-pulau di Kepulauan Seribu telah dijadikan daerah pertahanan, galangan kapal dan bengkelnya, isolasi haji serta tanah pembuangan. Pulau seperti Edam (Damar), Onrust, Tidung, Sebira dan yang lainnya di sisi utara, mempunyai potensi wisata sejarah dan ziarah bagi DKI Jakarta sendiriSesuatu yang menarik untuk dicermati secara geografis, gugusan pulau di Kepulauan Seribu hanya berjumlah 106-113 pulau saja, bahkan secara geografis, pulau-pulau itu lebih dekat ke propinsi Jawa Barat, Banten dan Lampung.Selengkapnya »Moyangku Adalah Pelaut

Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Jakarta sebagai Ibukota selalu menggambarkan kota-kota besar layaknya di negara besar lainnya. Pusat Jakarta memperlihatkan kemegahan dan keistimewaan hidup jika dilihat sebagai sebuah lingkup kota metropolitan yang diusungnya. Terdapat gedung-gedung megah bertingkat kanan-kirinya, mal-mal besar bersanding satu sama lainnya. Kota Jakarta bahkan tidak pernah tidur selama 24 jam dalam  sehari, untuk memenuhi kebutuhan manusianya dalam memenuhi hasrat-hasrat manusia modern. Lain daripada pembahasan soal pusat kota, Jakarta selalu bertarung dengan kampung kota dalam membangun kemewahannya. Pusat kota bukan saja menggusur sebagian besar kampung yang memiliki cerita besar di dalamnya. Pada lain pihak, kampung kota menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para manusia yang tinggal di Jakarta, karena Jakarta bukan hanya ada di pusat kotanya saja.

Permukiman di Indonesia, pada umumnya memiliki 3 tipe permukiman, seperti tipe permukiman yang terencana (Well-Planned), tipe permukiman kampung dan tipe permukiman pinggiran/kumuh. Dalam konteks perumahan perkotaan, kampung merepresentasikan konsep housing autonomy dimana warga kampung mempunyai kebebasan dan otoritas untuk menentukan sendiri lingkungan kehidupan mereka. Kampung juga merepresentasikan apa yang dikatakan Turner sebagai housing as a process, as a verb. Konsep ini memaknai bahwa pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah/MBR, tidak bisa dilihat sebagai satu one stop policy, melainkan sebagai proses menerus yang dinamik seiring dengan proses pengembangan sosial dan ekonomi warga kota.Selengkapnya »Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Pada pertengahan 1990-an, sayup-sayup saya mendengar nama Yorrys TH Raweyai sebagai salah satu tokoh pemuda yang ditakuti. Dia disebut-sebut dekat dan disegani para preman di seantero ibukota. Karena itu ketika awal menjadi wartawan Tempo, 2001, mendapat tugas untuk mewawancarinya saya blingsatan bukan kepalang. Tapi untuk mengelak dari tugas, tentu haram hukumnya.

Nyatanya dia tak seangker yang dicitrakan. Rasa gemetar saat memencet bel dan memarkir Honda Kharisma di halaman rumahnya di kawasan Pejaten langsung luruh begitu berhadapan langsung dengannya. Dia ramah. Punya sense of humor yang baik.

Ketika dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua Barat, Juli 2006, saya meliput aktivitas kampanyenya di Manokwari dan Sorong. Selama empat hari bergaul di sana, ada kalanya memang sisi keras dia muncul.Selengkapnya »Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Seberapa K-Pop Lo? Seberapa Koplo?

Sebuah ungkapan yang sepele. Pada dasarnya sah-sah saja orang memilih untuk dirinya sendiri kesenangan, baik itu musik, drama, pertunjukan kesenian, idola, bahkan ideologi. Tidak ada yang salah ketika dia menetapkan suatu standar hiburan bagi dirinya, entah itu yang mahal atau yang murah. Toh, orang lain tidak berhak menghakimi kesenangan dirinya. Sebab kebebasan manusia dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945 bahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Nah, di zaman millennial ini sebagai manusia bebas di ibukota yang individualiitas warganya tercipta oleh kondisi lingkungannya, mereka dapat dengan sebebas-bebasnya memilih hiburan untuk menenangkan dan menyenangkan dirinya sendiri, salah satunya adalah Drama Korea dan K-Pop.

Sekat-sekat kebudayaan menjadi hilang, sehingga bocah-bocah milennial, lebih mengenal artis K-Pop macam Black Pink, Exo atau BTS ketimbang grup SLANK, Sheilla On 7, PADI, DEWA 19. Sebab karya mereka terus-menerus diputar, didengar dan diperdengarkan, diunggah di media sosial atau sekadar dinikmati di putaran ponsel, yang ironisnya, berasal dari negeri Ginseng tersebut.

Adakah yang salah dari kondisi itu? Sama sekali tidak. Sama sekali tidak. Lalu apa?Selengkapnya »Seberapa K-Pop Lo? Seberapa Koplo?

Deddy Dhukun, Rhoma Irama, dan Vanessa Angel

Kejutan itu bernama Deddy Dhukun (DD). Dia muncul di tengah acara halal bihalal SMALIX, Sabtu (29/6), seraya melantunkan Aku Ini Punya Siapa. Lagu ini dirilis pada 1987, dan membuat nama mendiang January Christy (JC) kian berkibar sebagai penyanyi jazzy.

Susah juga ternyata / Punya pacar bermata liar / Sering kali memalukan / Dibuatnya aku tiada berharga

Hampir semua teman yang hadir fasih betul dengan lagu ini. Hal itu tak cuma terlihat dari komat-kamit di mulut, juga terekspresikan dari gerakan tangan dan lenggak-lenggok kepala mereka. Saya juga sebetulnya hapal, karena pernah mengoleksi album tersebut. Diam-diam saya pun bersenandung dalam hati, karena lebih suka menikmati eskpresi dan keceriaan teman-teman. Kami yang sudah berusia separuh abad seolah tenggelam bersama ke masa lalu.

Sebelum lagu itu, DD dan Dian Pramana Putra menciptakan Melayang yang juga dinyanyikan JC. Majalah musik, Rolling Stone menobatkan “Melayang” sebagai satu dari “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”.Selengkapnya »Deddy Dhukun, Rhoma Irama, dan Vanessa Angel

Jalan Thoriqoh Liverpuliyah

Liverpool kembali gagal. Netizen segera beraksi, kaus Mo Salah yang bertuliskan “Never Give Up” diedit menjadi “Never this Year”. Hal yang biasa bagi Qoffal, sohib saya, yang telah kebal dengan olok-olokan tiap tahun. Karena sejatinya, memilih menjadi Liverpudlian berarti juga memilih kesengsaraan sebagai jalan hidup.

Selengkapnya »Jalan Thoriqoh Liverpuliyah

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali. Di anak tangga pertama, beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.”

Lepas khutbah, sahabat di barisan depan itu bertanya, “Engkau mengucapkan ‘Amin’ tiga kali. Ada apa gerangan?” Rasulullah bercerita tentang Jibril yang datang kala itu. “Jibril berdoa,” katanya, “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu dosa-dosanya tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.Selengkapnya »Tak Ada Lebaran