Blog

Kelahiran si #NgoJak

  • by

Ketika ada niat, pasti akan ada jalan. Terdengar klise, terutama bagi para pesimis seperti saya. Saya selalu mencoba menjaga jarak dengan sesuatu yang baru, terutama dengan pertimbangan risiko-risiko yang mungkin muncul. Saya tidak akan pernah bilang “iya” pada kesempatan pertama. Saya memerlukan “riset manajemen risiko” yang lumayan lama untuk mengambil keputusan. Untungnya tidak separah SBY.

Namun ketika Ali Zaenal mengirim pesan melalui Whatsapp Messenger kali itu, hilang semua SoP itu. Saya terlalu senang sampai saya langsung balas pesannya tak sampai satu menit. “Siap, kapan kita ketemu?”. Entah kenapa saat itu, berjanji bertemu Ali, bagai berjanji bertemu wanita muda cantik dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menunggu seminggu untuk bertemu Ali, juga Novita, serasa sangat lama. Mulas dan dag-dig-dug.

Tentu saja begitu, pasalnya Ali dan Novi mengajak saya untuk membuat komunitas belajar macam Komunitas Aleut. Mereka nampaknya cukup terkesima dengan cara Aleut mengelola kegiatan belajar dengan cara yang berbeda, setelah akhirnya berkesempatan datang ke Kelas Literasi Aleut. 

Selengkapnya »Kelahiran si #NgoJak

Di Jakarta, Kiamat Maju Mundur

  • by

Tak ada beda matahari yang terbenam hari ini dan yang akan muncul besok pagi. Matahari yang sama, kecuali Tuhan memutuskan kiamat terjadi di antara dua waktu itu. Tapi, siapa yang percaya kiamat akan terjadi tiba-tiba?

Pembaca teks agama percaya kejadian itu akan dimulakan dengan salah terbitnya matahari – dari tempat terbenamnya, terkikisnya jumlah manusia yang beriman kepada Tuhan, dan munculnya Dajjal yang menguasai dunia. Para pembaca semesta memercayai bahwa kiamat akan diperkenalkan dengan mendekatnya lubang hitam (black hole) di jagad raya. Ia akan melahap semua yang ada, memindahkan himpunan tata surya ke alam antah berantah yang belum pernah dikenal. Para pembaca lingkungan meyakini bahwa dunia telah berada dalam rel menuju kiamat setelah gunung es mencair lebih cepat daripada laju pencairannya berdekade-dekade lalu, lapizan ozon menipis, langit menjadi gudang karbon, eksplorasi minyak dikebut, dan produksi asap tak juga berhenti.Selengkapnya »Di Jakarta, Kiamat Maju Mundur

Blusukan di Belantara Jakarta

Blusuk merupakan suku kata dalam bahasa Jawa, yang berarti masuk ke sebuah tempat asing. Imbuhan ‘an’ pada kata blusuk, menjadi ‘blusukan’ adalah sebuah aktivitas untuk mengetahui atau mencari sesuatu ke tempat yang jarang dikunjungi atau dilihat oleh publik sebagai tempat tujuan.

Apa yang menarik dari blusukan? Tentu sebuah kepuasan batin, sekaligus mencari hal baru dalam upaya penjelajahan mencari sesuatu. Blusukan atau mBlusukan adalah sebuah aktivitas lama, yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Ir. Joko Widodo saat menjabat sebagai Walikota Surakarta. Aktivitas tersebut diteruskan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan kemudian Presiden Republik Indonesia.

Aktivitas blusukan biasanya dilakukan oleh pejabat yang agak “rock n roll’, santai, tidak mau berjarak dengan rakyat atau berupaya menyerap aspirasi rakyat secara face to face, tanpa jarak dan briokrasi, sejak masa lalu hingga kini. Saya membaca berbagai tulisan sejarah, biasanya pemimpin yang gemar blusukan. Dia akan lebih dikenal oleh rakyat dan tercatat sebagai pemimpin yang baik dalam catatan sejarah. Ini bukan berarti saya mengagungkan Joko Widodo, ya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan unsur dukung-mendukung.Selengkapnya »Blusukan di Belantara Jakarta

Perjalanan Mencari Kekayaan

Perjalanan dan perjumpaan setiap manusia pasti berbeda, Ada banyak kisah dan cerita. Tetapi yang pasti perjumpaan itu memperkaya. Perjumpaan yang sungguh-sungguh memperkaya itu bila setiap perjalanan dinikmati apapun kondisinya, dan NgoJak mengajarinya dalam tour NgoJak ke-24 “Bungur, Menolak Luntur” Minggu, 17/11/2019.

Perjalanan dimulai dari Tugu Perjuangan Rakyat tak jauh dari Pasar Senen menyusuri Pasar Poncol, Bungur, Kali Baru, Jiung dan diakhiri ke Rumah Tokoh Betawi Bang Ben. Di titik awal perjumpaan dengan Komunitas NgoJak, di depan tugu Perjuangan Rakyat, Mas Sofyan menyapa dan mengawali kisah tentang Pasar Senen. Bergantian dengan Mbak Novita dan Pak Chandrian bertiga mengisahkan bahwa di era pra-kemerdekaan (1930-an), kawasan sekitar pasar Senen merupakan kawasan berkumpulnya para intelektual muda serta para pejuang bawah tanah dari Stovia. Beberapa pemimpin pergerakan seperti Chairul Saleh, Adam Malik, juga Soekarno dan Mohammad Hatta, acap menggelar pertemuan di kawasan ini. Maklum, mereka kost di kawasan Kramat yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda dan sekolahnya di Stovia yang sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional.Selengkapnya »Perjalanan Mencari Kekayaan

Joker Adalah Penjahat Super

There is no justification for life, but also no reason not to live. Those who claim to find meaning in their lives are either dishonest or deluded. In either case, they fail to face up to the harsh reality of the human situations.

Kutipan dari Donald Crosby, seorang profesor bidang Filosofi asal Amerika, tersebut, adalah salah satu hal bisa meringkas film Joker karya Todd Phillips dan Scott Silver. Bukan tugas yang mudah bagi seorang pembuat film, untuk memberi justifikasi bagi seorang tokoh seperti Joker. Secara tradisional, Joker adalah penjahat super, yang menjadi pijakan sang pahlawan super, dalam kasus ini adalah Batman, untuk beraksi memukau para penggemar.

Memfilmkan Joker, tentunya akan lebih sulit dari melakukan hal yang sama dengan tokoh Batman, Wonder Woman, atau Superman. Ekspektasi moralitas hitam-putih, ketergantungan atas adegan aksi penuh CGI, dan kebutuhan untuk membuat si karakter utama terlihat cool selalu membayangi setiap sineas yang menggarap film adaptasi dari DC. Chris Nolan sudah mencoba dengan sangat baik untuk membuat Batman terlihat sangat manusiawi dan rapuh di trilogi Dark Knight, namun bagaimanapun, ia adalah Batman, yang sudah punya simpati sejak puluhan tahun lalu, dan produk akhir karakternya adalah “benar” secara moral.Selengkapnya »Joker Adalah Penjahat Super