ucokalhariri

Asian Games 1962 Dalam Jejak

Perhelatan Asian Games 2018 di depan mata. Indonesia, Jakarta pada khususnya, bersolek rupa. Mendempul wajahnya dengan berbagai kosmetik agar terlihat jelita di panggung Asia. Trotoar diperlebar, bangunan dicat warna-warni, jalan raya turut dipermanis jua. Bahkan, saking hingar bingarnya menyambut perhelatan Asian Games 2018, aksi saling ledek cebong dan onta meramaikan jagat dunia maya.

Di balik keramaian tersebut, tak rugi rupanya jika kita menengok ke belakang ke tahun dimana Asian Games pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Bersama dengan komunitas Ngopi (di) Jakarta, saya menelusuri jejak – jejak ingatan di tahun sembilan belas enam dua.Selengkapnya »Asian Games 1962 Dalam Jejak

Aku Ingin Pindah ke Weltevreden

“Aku ingin pindah ke Meikarta!”

Apakah Anda familiar dengan kalimat di atas? Iya. Iklan Meikarta. Sebuah wilayah yang digadang-gadang akan menjadi kawasan elit bagi warga Jakarta. Di mana kebahagiaan dan kenyamanan tumpah ruah di dalamnya.

Tetapi karena ini bukan cerita tentang Meikarta, dan saya juga tidak mendapat bayaran apa-apa, maka cukup sampai di sini saja. Sejatinya saya ingin bercerita tentang Weltevreden.

Izinkan saya memulai dengan sedikit cuplikan sejarah agar pembaca paham konteksnya.

Sumber foto: Website Sinarharapan.net

Kawasan Weltevreden dahulunya hanyalah sebuah daerah tak bertuan hingga seorang perwira VOC bernama Anthony Paviljon membuka daerah ini pada tahun 1632, yang kemudian hari dikenal dengan nama Paviljoenplein. Kepemilikan Paviljoenplein kemudian berpindah tangan ke salah satu dewan Hindia Belanda bernama Cornelis Chastelein pada tahun 1696. Di tanah ini dibangun villa-villa peristirahatan bagi kaum elit Hindia Belanda. Dan nama Weltevreden lahir, yang bermakna tempat yang menyenangkan. Kawasan ini semakin pesat saat konglomerat Belanda, Justinus Vinck, membangun dua pasar yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.Selengkapnya »Aku Ingin Pindah ke Weltevreden

Lelaki Muslim yang Menjaga Klenteng

Seperti lazimnya gang-gang di Jakarta, Gang Padang di Jatinegara ini bentuknya tak jauh berbeda. Memiliki lebar tak lebih dari satu mobil, berdinding semen kasar, dan rumah-rumah yang rapat tiada jarak. Dua bapak-bapak duduk di depan rumah. Bercerita, mengepulkan asap rokok, dan tersenyum ketika saya menyapa. Tak jauh dari mereka, di salah satu sudut gang, bangunan serba merah dan kuning nampak kontras di antara abu-abu tembok.

“Yayasan Bio Shia Jin Kong” tertulis rapi dengan cat warna kuning di bawah huruf-huruf Mandarin yang berwarna merah terang. Sesaat sebelum masuk lebih jauh, harum dupa telah menyambut hidung dengan tegas. Saya membuka alas kaki dan langsung duduk bergabung dengan teman-teman Ngopi Jakarta lainnya.Selengkapnya »Lelaki Muslim yang Menjaga Klenteng