oomindra

Goyang Lidah Agus Salim

  • by

Saya selalu tertarik dengan kiasan-kiasan bahasa Indonesia. Karakteristik yang terpengaruh gaya berbahasa Melayu ini buat saya adalah sebuah seni tersendiri. Membuat dan memakai kiasan untuk mereinterpretasi kenyataan tentunya membutuhkan kepekaan, dan olah rasa yang kuat. Salah satu kiasan yang menarik adalah “goyang lidah”, yang seperti kita tahu, dipakai untuk menggambarkan rasa enak dari sebuah panganan yang dimakan seseorang. Bagi saya, membayangkan sepotong steak dengan kematangan medium, masuk dengan mulus ke dalam mulut, lalu saripatinya mencair ketika dikunyah. Memang mirip saat melihat warga kompleks khidmat bergoyang dengan iringan lagu dangdut di panggung tujuhbelasan.

Lalu apa hubungannya dengan Agus Salim? Apakah Agus Salim adalah penghobi kuliner? Tentu tidak. Agus Salim yang selalu hidup dalam aksi kesederhanaan mungkin bukan orang yang menganggap kuliner adalah seni yang menggugah. Pola pikir seperti itu tentunya bukan pola pikir umum warga bumiputera negara jajahan.Selengkapnya »Goyang Lidah Agus Salim

Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Tak perlu menunggu lama lagi, dunia akan segera menjadi sangat seragam. Manusia akan menjalani hidup dengan cara yang sama. Vodka tidak lagi diminum di suhu minus, Coca-Cola sudah sampai ke Kampung Naga, Avanza terjual hingga pelosok Palopo, dan tiap seratus langkah di kota besar, pasti ada satu jendela dimana terdengar lagu Rihanna. Lebay sih, hehehe. Tapi sebagian memang benar. Proses karsa, cipta dan karya manusia nampaknya sudah cukup terseragamkan oleh apa yang disebut Globalisasi, dengan Kapitalisme dan Budaya Populer sebagai poin-poin utama dibantu oleh teknologi komunikasi yang makin mendekati ide connecting people dari Nokia.

Tak terkecuali di Indonesia. Budaya-budaya lokal nan unik hasil sejarah panjang harus berjuang keras untuk tetap eksis. Eksis secara organik nampaknya cukup berat, sehingga kebanyakan memerlukan konservasi, bahkan mistifikasi dan fusion, untuk tetap eksis.
Selengkapnya »Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Pages: 1 2 3 4

Kelahiran si #NgoJak

  • by

Ketika ada niat, pasti akan ada jalan. Terdengar klise, terutama bagi para pesimis seperti saya. Saya selalu mencoba menjaga jarak dengan sesuatu yang baru, terutama dengan pertimbangan risiko-risiko yang mungkin muncul. Saya tidak akan pernah bilang “iya” pada kesempatan pertama. Saya memerlukan “riset manajemen risiko” yang lumayan lama untuk mengambil keputusan. Untungnya tidak separah SBY.

Namun ketika Ali Zaenal mengirim pesan melalui Whatsapp Messenger kali itu, hilang semua SoP itu. Saya terlalu senang sampai saya langsung balas pesannya tak sampai satu menit. “Siap, kapan kita ketemu?”. Entah kenapa saat itu, berjanji bertemu Ali, bagai berjanji bertemu wanita muda cantik dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menunggu seminggu untuk bertemu Ali, juga Novita, serasa sangat lama. Mulas dan dag-dig-dug.

Tentu saja begitu, pasalnya Ali dan Novi mengajak saya untuk membuat komunitas belajar macam Komunitas Aleut. Mereka nampaknya cukup terkesima dengan cara Aleut mengelola kegiatan belajar dengan cara yang berbeda, setelah akhirnya berkesempatan datang ke Kelas Literasi Aleut. 

Selengkapnya »Kelahiran si #NgoJak

Menyambangi Kampung Para Bangsawan : Karadenan Kaum

  • by

Frustrasi rasanya. Sebegitu sulit bagi saya menemukan loket 7-8 Stasiun Bojong Gede. Dimana beberapa kawan yang akan ikut NgoJak hari ini sudah berkumpul. Saya bertanya ke dua petugas keamanan yang berjaga di peron. Keduanya menunjuk arah yang berbeda. Dua-duanya salah. Saya terpaksa membayar dua ribu rupiah untuk masuk lagi ke stasiun. Tiga puluh menit habis percuma. Semoga kawan-kawan memaafkan sesampainya nanti.

 

Stasiun Bojong Gede

Sampai ke tempat berkumpul, sudah ada Ali, Mbak Diella, Mas Bimo, Risa, Harry, Gafi, Dodo, Arie, Juwita, dan Jeni. Duh telat. Beberapa di antaranya sudah sempat berkenalan. Mbak Diella dan Mas Bimo adalah alumni perjalanan Komunitas Aleut ke Cirebon tahun 2009, yang kini bermukim di Jakarta. Risa adalah jurnalis dari majalah sejarah populer paling keren di Indonesia, Majalah Historia. Harry dulu pernah aktif juga di Aleut sebelum kuliah lagi di Universitas Indonesia.

Selengkapnya »Menyambangi Kampung Para Bangsawan : Karadenan Kaum

Membaca Jakarta Memaknai Peradaban

  • by

Sungai Ci Liwung mengalir tenang. Tak begitu jernih, namun cukup meyakinkan untuk ketiga anak itu lari dari tepian dan berenang ke tengahnya. Matahari sore menghangatkan air sungai, sekaligus memantulkan warna jingga yang romantis.

Mereka tidak tahu, enam ratus tahun lalu, Pangeran Surawisesa dari Kerajaan Sunda,putra Prabu Siliwangi yang agung, duduk di tepian dekat anak-anak itu. Selengkapnya »Membaca Jakarta Memaknai Peradaban

Ciliwung Dalam Cerita Peradaban Jakarta

Sungai adalah ibu yang menghidupi. Terkesan berlebihan bila kita kemukakan teori itu sekarang. Namun simbolisme tersebut adalah pemikiran umum pada kebudayaan-kebudayaan besar di masa lalu. Memang kenyataannya, sebelum era rekayasa air, sungai, selain juga pantai, adalah denyut nadi metropolis-metropolis masa lalu seperti Mohenjo Darro, Harappa, lalu negeri-negeri di sisi Eufrat dan Tigris, negeri-negeri di sisi Mekong, Amazon, Rhijn, dan Thames. Sungai menghidupi peradaban-peradaban tersebut  baik sebagai sumber air, sumber makanan, penyokong cocok tanam, hingga sebagai infrastruktur ekonomi dan perdagangan.

Tidak berbeda dengan beberapa peradaban di Nusantara. Kerajaan Taruma (Tarumanagara), sejak berdiri hingga pecah, sangat menggantungkan diri pada Citarum. Beberapa raja Tarumanagara bahkan berhasil merekayasa aliran sungai demi kemaslahatan ekonomi dan stok pangan mereka, sebagai mana dapat dilihat pada beberapa prasasti seperti Prasasti Kebon Kopi dan Prasasti Ciaruteun.

Kerajaan Sunda Pakuan atau Sunda Galuh, sebagai pecahan dari Tarumanagara, mengikuti pola pendahulunya dengan mengandalkan sungai sebagai penggerak ekonomi. Jika Tarumanagara mengandalkan Citarum untuk menghubungkan ibukota dengan pelabuhan utama mereka di Pantai Utara Karawang dan Bekasi, Sunda Pakuan mengandalkan Ciliwung sebagai “jalan tol” dari ibukota mereka di pedalaman Bogor Selatan ke desa pelabuhan utama mereka, yaitu Desa Kalapa.Selengkapnya »Ciliwung Dalam Cerita Peradaban Jakarta

Rantai dan Anjing Gunung

Ternyata tidak semuanya mengagumiku dan menunggu kedatanganku. Baru saja dua-tiga detik aku hinggap, aku sudah disambut salakan yang luar biasa berisik, bahkan bagi aku yang sudah kenyang pengalaman berpapasan dengan pesawat jet berukuran besar.

“DIAM!”. Bersamaan dengan perintah itu, lenyap pula suara berisik mamalia berkaki empat itu. Dia kini menggeram, rautnya tampak sangat kesal. Keempat kakinya melangkah kecil maju mundur. Mendengus-dengus kencang, sambil moncongnya bergerak naik-turun karenanya.Selengkapnya »Rantai dan Anjing Gunung

Gestok : Kebenaran Yang Banyak

  • by

wpid-img_20151018_130204

In so far as the word “knowledge” has any meaning, the world is knowable; but it is interpretable. Otherwise, it has no meaning behind it, but countless meanings.

Mungkin ada berkah terselubung dari sulitnya mencari dokumen resmi dari pemerintah tentang kasus Gerakan Satu Oktober (Gestok) dan rangkaian peristiwa yang melatari dan menjadi efeknya. Beberapa dokumen yang dibuka CIA beberapa waktu lalu memang menambah perbendaharaan dokumen tentang Gestok. Namun bagi para akademisi tentu belumlah cukup untuk mendasari pencarian kebenaran yang empiris. Masih meraba dan merayap dengan bermacam hipotesis akibat fragmen-fragmen data yang muncul sporadis disertai dengan otentisitas yang selalu bisa diperdebatkan. Peristiwa Gestok, sebagaimana peristiwa berdarah lain sepanjang sejarah, tentunya memiliki potensi tinggi sebagai sesuatu yang multiinterpretatif. Karena tendensi pihak terkait untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait pasti tidaklah besar.

Selengkapnya »Gestok : Kebenaran Yang Banyak