Hasan Bashori

NgoJak, Aku Kangen Padamu Tak Karuan!

Rasanya baru kemaren saya mengenal komunitas ini, namun rasanya sangat lama sekali. Kenangan itu saya rawat, dan merawat itu butuh waktu dan perjuangan. Sesekali dalam sunyinya malam, saya memeriksa sendiri dengan segala indikator yang menurutku tidak berdiri sendiri, indikator kenangan soal komunitas yang bernama Ngopi (di) Jakarta. Apa kemudian yang kudapat pasca berpengetahuan di dalam menghayati situs sejarah, gejala sosial masyarakat dan harapan-harapannya, tidak lebih dari persahabatan tanpa curiga, persekawanan tanpa syarat, dan menjadi pribadi yang dewasa dalam menyikapi perbedaan dan persamaan. Sungguh jika ini diletakan bersama dalam kerangka berhubungan, berkomunikasi dan pertengkaran, mungkin dugaan saya di sana akan selalu hidup apa yang di namakan “persekutuan abadi”.

Betapa tidak sangat berharga, Jika orang berilmu dan berpengalaman yang berbeda-beda membentuk satu klan bicara, tukar ide, menjajakan hegemoni satu sama lain, sedih, bahagia, sesekali campur dendam karena kecewa, tetap saja masih eksis sampai hari ini. Sungguh, sangatlah indah. Ya sangat indah sekali. Itu saya, itu perasaan saya secara pribadi, dan mungkin kalian penghuni NgoJak bisa berbeda, saya sangat menghormati itu. Saya junjung tinggi kalian sebagai manusia, yang bagi pemahaman saya diciptakan Tuhan untuk saling menghormati, saling mengenal dan tentu sesekali saling kecewa.

Selengkapnya »NgoJak, Aku Kangen Padamu Tak Karuan!

Santri di Gelanggang Zaman

Dalam sudut politik, anotomi sejarah santri selalu terlibat dalam gegap gempita distribusi kekuasaan. Distribusi kekuasaan selalu terlihat tidak adil bagi yang merasa tak mendapatkan. Anehnya, kabar-kabar kekuasaan dilaksanakan oleh mereka-mereka yang tak ahli. Sehingga tafsir soal anotomi para pembagi mendapatkan dua tantangan besar, pertama, “kasihan” kedua, “yang bekerja”.

Zaman ini adalah masa di mana kekacauan dalam euforia yang dalam ungkapan tukang ojek “moto peteng”. Yang tak ahli seolah mendapat jatah, yang ahli mendapatkan jatah sebagai penonton kelas barak pengungsian. Santri selalu punya wajah ini.Selengkapnya »Santri di Gelanggang Zaman