Dodo Aiki

Aikido

Mengunjungi Senen di Hari Sabtu

Sabtu 24 Februari, bersama Komunitas Ngopi Jakarta (Ngojak) saya beserta 41 peserta lain yang sebagian besar sudah sering bertemu baik online maupun offline berencana untuk menyusuri kawasan Kramat-Kwitang dan perjalan tersebut kami beri nama “Kramat-Kwitang: Yang lamat-lamat menghilang”.

Sinar matahari bersinar terang seakan ingin menunjukan keindahan hasil karya penciptanya, jalan beraspal terasa hangat untuk dipijak namun terasa panas jika dijilat, asap kendaraan bercampur dengan debu diiringi suara deru kendaraan terdengar bising namun lumrah adanya, dan kami nyatanya telah terbiasa dengan keadaan ini.

Dikarenakan Sabtu itu ada tugas negara maka saya baru bergabung dengan kawan-kawan Ngojak sekitar pukul 12:00 WIB. Persinggahan pertama yang saya kunjungi bersama kawan-kawan Ngojak adalah Masjid Jagal Al-Arif, masjid tersebut dibangun tahun 1695 (walaupun di masjid tersebut ditulis 1600) oleh seorang Bangsawan Kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) Daeng Upu Arifuddin (meninggal 1745) dan dimakamkan di area Masjid Al-Arif). Kemudian nama beliau diabadikan menjadi nama Masjid Jagal Al-Arif, sebelum 1969 nama masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Jagal Senen. Lokasi yang berada tepat di area Pasar Senen mambuat Masjid tersebut selalu ramai disinggahi untuk Beribadah maupun hanya sekedar melepas lelah oleh para pedagang Pasar Senen dan masyarakat umum yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.

Setelah kurang lebih setengah jam kami melakukan Ibadah Sholat Dzuhur sambil istirahat di area Masjid Al-Arif perjalanan pun berlanjut, kami memasuki kawasan Pasar Senen. Pasar yang di bangun pada Tahun 1735 tersebut mungkin sudah sering kita kunjungi atau hanya sekedar kita lewati dan melihat sekilas saat melintas di depan pasar tersebut. Pasar yang sudah beberapa kali terbakar tersebut lebih terlihat tertata rapih jika dibandingkan dengan keadaan 5-10 tahun yang lalu, di mana para pedagang berdagang di area trotoar depan pasar bahkan sampai memenuhi bahu jalan walaupun sekarang di beberapa sudut pasar masih terlihat tumpukan sampah di sana-sini. Di dalam area Pasar Senen kita bisa mendapati satu blok (blok Batak) yang menjual berbagai macam makanan khas Sumatera Utara dan juga beberapa kios penjual buku-buku bekas yang masih bertahan di era digital sekarang ini.Selengkapnya »Mengunjungi Senen di Hari Sabtu