Yazid Fahmi

Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Jakarta sebagai Ibukota selalu menggambarkan kota-kota besar layaknya di negara besar lainnya. Pusat Jakarta memperlihatkan kemegahan dan keistimewaan hidup jika dilihat sebagai sebuah lingkup kota metropolitan yang diusungnya. Terdapat gedung-gedung megah bertingkat kanan-kirinya, mal-mal besar bersanding satu sama lainnya. Kota Jakarta bahkan tidak pernah tidur selama 24 jam dalam  sehari, untuk memenuhi kebutuhan manusianya dalam memenuhi hasrat-hasrat manusia modern. Lain daripada pembahasan soal pusat kota, Jakarta selalu bertarung dengan kampung kota dalam membangun kemewahannya. Pusat kota bukan saja menggusur sebagian besar kampung yang memiliki cerita besar di dalamnya. Pada lain pihak, kampung kota menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para manusia yang tinggal di Jakarta, karena Jakarta bukan hanya ada di pusat kotanya saja.

Permukiman di Indonesia, pada umumnya memiliki 3 tipe permukiman, seperti tipe permukiman yang terencana (Well-Planned), tipe permukiman kampung dan tipe permukiman pinggiran/kumuh. Dalam konteks perumahan perkotaan, kampung merepresentasikan konsep housing autonomy dimana warga kampung mempunyai kebebasan dan otoritas untuk menentukan sendiri lingkungan kehidupan mereka. Kampung juga merepresentasikan apa yang dikatakan Turner sebagai housing as a process, as a verb. Konsep ini memaknai bahwa pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah/MBR, tidak bisa dilihat sebagai satu one stop policy, melainkan sebagai proses menerus yang dinamik seiring dengan proses pengembangan sosial dan ekonomi warga kota.Selengkapnya »Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Jakarta dengan Sindrom Keterjebakan di Dalamnya

Sebenarnya saya ingin menuliskan sesuatu hal untuk sebuah kota yang dianggap kejam ini. Yaitu mereka yang hidup dalam kota ini pada akhirnya adalah mereka yang terkena sindrom ketidakmampuan melepaskan diri dari sebuah jebakan. Dan anehnya sadar atau tidak kita tetap menikmati jebakan yang berisi kekerasan disertai penindasan ini. Kekerasan dan penindasan seperti apa?

Kekerasan hidup di Jakarta sebenarnya bisa saja dihindari, jika perkembangan infrastruktur dan ekonomi pada desa sama meratanya. Tak ada kekerasan fisik tentang saling sikut kanan dan kiri untuk mencapai puncak. Tak ada kekerasan verbal hanya untuk sebuah eksistensi atau hanya sekedar menjaga daerah teritorial penghasilannya. Kecenderungan pekerja di Jakarta adalah bermuka dua –berteman dan memusuhi. Karena dihadapkan pada kondisi harus bersaing untuk sebuah jabatan, hal yang ternoda dari semua itu tentu saja wajah profesionalitas dalam sebuah profesi.Selengkapnya »Jakarta dengan Sindrom Keterjebakan di Dalamnya

Kuburan Tua dan Keberanian Tiada Batas

Lihat kebun ku(da)… Penuh dengan bu(aya)… Ada yang puti(kus)… Dan ada yang mera(yap)…
Setiap hari(mau)… Kusiram semu(t merah)… Mawar melati(kus)… Semuanya mampus…

Hahaha… Gak usah diambil serius. Lagu diatas adalah plesetan dari lagu lihat kebunku, jadi kalau mau nyanyiin coba pake nada lihat kebunku. Kalau gak bisa nyanyi ya udah gak usah maksa gitu, lu bisanya lagu anyenyoiii sih. Haha.

Kenapa anak kecil itu selalu takut hantu ya? Dan gue baru sadar bahwa ini adalah stigma yang diciptakan oleh orang-orang tua terdahulu. Tapi maaf-maaf aja ya men, gue si anak tahun 90an dengan semangat Panji Manusia Almunium gak segitu beraninya. loh! Iya gue gak yang paling beranilah apalagi gue pernah kesambet. Tapi gue akuin bahwa itu kelakuan super duper konyol waktu gue kecil. Selengkapnya »Kuburan Tua dan Keberanian Tiada Batas

24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pak pung… Pak mustape…
Enci dula… Di rumahnye…
Ada tepung… Ada kelape…
Gula jawa… Di tengahnye…

Bersenandung sambil jalan ala Syahrini ternyata menyenangkan. Pasalnya, 3 kali bolak balik Tangerang – Duri – Tangerang – Duri – Tangerang lagi, baru akhirnya nungguin di Stasiun Duri. Oke, ini gak nyambung. Kali ini dalam rangka meramaikan 24 Hour Project, beberapa pasukan NgoJak ikut keluyuran melihat aktivitas apa saja selama 24 jam terakhir di kota Jakarta. Peralatan perang udah siap: 2 Hape, Power Bank, jas hujan, plastik lebar, kompor dan nesting. Seharusnya pagi ini pasukan sudah lengkap, tapi sayangnya masih ada yang masih nyungsep di kasur.Selengkapnya »24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pages: 1 2

Tragedi Pohon Jambu

Ci… Ci… Putri. Tembako lima koli…
Mak none… Mak none…
Si unyil minta apa? Minta ikan peda.
Pulang… Pulang… Dapet duda…

Gue akan usahain setiap tulisan, nantinya akan gue hadirkan nyanyian-nyanyian permainan jaman gue kecil dulu. Buat apa? Biarlah lo yang sok muda pada inget umur. Kali ini gue pengen cerita lagi kekonyolan masa kecil gue dulu. Sebagai anak angkatan 90-an dengan semangat Panji Manusia Almunium, gue punya segudang cerita konyol jaman dulu yang gue yakin anak sekarang pasti gak pernah ngerasain.

Kali ini gue akan bahas bagaimana seharusnya anak kecil diajarkan untuk paham pada sesuatu yang berbahaya. Oke! Banyak orang tua yang gak mau repot dengan mengatakan itu berbahaya dengan menakut-nakuti si anak, tapi tahu gak sih, ada dua kemungkinan yang akan terjadi dengan si anak. Pertama, anak itu akan mencoba dan yang kedua, si anak akan merasakan trauma. Dan hal ini lagi-lagi terjadi sama gue! Oke jangan dulu sok simpati. Kalau mau ketawa ya ketawa aja. Kalau ada yang nanya kok masa kecil lu saklek amat sih? Karena gue adalah anak sehat, tubuhku kuat, karena emakku rajin dan cermat, semasa aku bayi aku diberi ASI makanan bergizi dan pepes terasi. Oke skip! Malah nyanyi.Selengkapnya »Tragedi Pohon Jambu

Dunia Anak dan Siaran Alay

Mie… Mie… Mie… Mie atas… Mie bawah… Mie depan… Mie belakang…
Mie satu… Dua… Tiga… Mie tiga… Dua… Satu…
Mie cio… Cio… Cio… Mie cio… Cio… Cio…
Mie gulung… Gulung… Gulung…

Siapa yang ingat dengan lirik lagu di atas? Sudah tidak usah merasa muda. Bagi anak yang lahir dan besar di tahun 90-an, lirik lagu ini pasti akrab di telinga kita. Meskipun pertanyaan terbesarnya kini adalah, apa arti dari lirik lagu di atas? Tapi kita tidak sedang membahas arti lirik lagu itu. Mari kita bahas tentang kebodohan masa kecil gue.

Sebagai seorang pria tampan yang ketampanannya sudah disumbangkan bagi yang membutuhkan, jadi yang tersisa dari gue adalah kekerenan. Gue dengan bangga mengatakan bahwa gue anak generasi 90-an yang besar dengan semangat Panji Manusia Almunium. Namun seolah dimakan zaman, ternyata gue mulai takut akan kehilangan masa, di mana gue dengan suka ria menertawakan apapun yang terjadi. Terlebih dengan perkembangan anak-anak dan remaja masa kini. Oke, lu gak usah sebut Alkalin atau PesouLex. 😀Selengkapnya »Dunia Anak dan Siaran Alay